Kompas.com - 17/09/2012, 10:49 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Perancang senior Edward Hutabarat kembali ingin berbagi. Kali ini soal gagasan daur ulang, yang baginya bukan sekadar ”fashion statement”, melainkan lebih dari itu, menjadi pola pikir dan sikap hidup.

Jangan pernah menyepelekan perca dan limbah kain. Di setiap sudut motifnya tergambar kerja keras dan biaya. Pemanfaatan barang sisa bisa menjadi cerminan bagaimana kita bersikap dalam situasi krisis saat ini.

Pada pergelaran bertajuk ”Javanese Royal Heritage” Kamis (13/9/2012) lalu, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, sebagian dari sekitar 50 set rancangan karya Edo memanfaatkan potongan-potongan perca berukuran 5 x 5 cm.

Perca-perca mungil dari batik dan lurik itu disambung dengan teknik quilt selebar setengah cm, dan menjadi materi kain dengan gradasi warna senada. Kain-kain itu kemudian diubah menjadi gaun-gaun berpotongan kasual, beberapa di antaranya bisa dikenakan bolak-balik.

Sepotong gaun yang bagian luarnya bermotif paduan batik dan lurik, misalnya, di bagian dalamnya dibuat dari batik Cirebon bermotif bunga. Ada juga gaun yang bagian luarnya berbahankan batik, dipadukan dengan kain bermotif kotak-kotak berwarna lembut di dalamnya.

Intinya adalah efisiensi. ”Di saat krisis ekonomi seperti sekarang kita tetap bisa tampil cantik, gaya, tetapi tetap efisien dan praktis. Tidak perlu membawa banyak baju sewaktu bepergian,” kata Edo yang ditemui di kediamannya, Senin (10/9/2012) lalu.

Dari kejauhan, gaun-gaun pendek itu seperti gaun ”biasa” khas Edo. Baju batik gaya kasual dengan tambahan aksen berupa bis dan obi atau ikat pinggang dari bahan linen bermotif garis-garis atau kotak-kotak. Namun, dekatilah, rabalah kainnya. Kita akan mendapati produk buatan tangan yang dikerjakan dengan penuh cita rasa, presisi, dan ketelitian yang tinggi.

Sehelai gaun yang materinya terbuat dari potongan perca 5 x 5 cm itu membutuhkan waktu panjang untuk merampungkannya. Diawali dengan penataan perca-perca yang disusun bagai sebuah lukisan utuh. Setelah memperoleh pola warna dan motif yang diinginkan, ”kain” yang terdiri atas potongan-potongan perca itu dijelujur per dua baris sebelum kemudian dijahit rapat seluruh bagiannya.

Demikian juga dengan koleksi Edo yang menggunakan motif batik parang baron. Sehelai gaun koktil motif parang dari bahan crepe de chine membutuhkan waktu pembuatan sampai lima bulan. Proses membatik di atas materi kain yang permukaannya halus itu membutuhkan keterampilan tinggi, selain tentunya ketelitian dan kesabaran.

Koleksi berlabel Part One ini semuanya berpotongan sederhana. Gaun pendek dengan padu padan jaket, gaun bersiluet botol, baby doll, juga gaun panjang tanpa lengan maupun berlengan panjang. Edo membiarkan penonton yang hadir malam itu menikmati keindahan batik dan lurik yang dibuat oleh tangan-tangan terampil perajinnya di desa-desa.

edward hutabarat

Halaman:


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.