Kompas.com - 19/09/2012, 09:54 WIB
Editorwawa

KOMPAS.com - Dulu, kita merasa memuji anak dianggap tabu karena takut anak akan menjadi sombong atau besar kepala. Setelah mengetahui manfaat pujian bagi anak, orangtua masa kini cenderung lebih royal dalam menghamburkan pujian. Sikap ini juga perlu diteliti lebih lanjut.

"Pujian adalah bagian dari penguatan yang dibutuhkan anak. Dengan pujian anak merasa diterima dan sukses. Tentunya hal ini akan membantu terciptanya konsep diri positif," kata pakar pendidikan, Henny Supolo Sitepu, MA.

Jika orangtua tahu kapan, di mana, dan bagaimana memuji anak dengan tepat, pujian bisa menjadi alat dalam membesarkan anak yang percaya diri dan menghargai dirinya sendiri. Pujian juga tak selalu harus dengan kata-kata. Anak-anak, bahkan di usia yang amat dini, sudah dapat mendeteksi perasaan dan bahasa tubuh orangtuanya.

"Anak menangkap pujian secara verbal dan bahasa tubuh kita. Melihat orangtuanya tersenyum lebar, memancarkan sorot mata bahagia, atau memeluknya merupakan bagian dari penguatan tersebut," kata Henny yang juga adalah Ketua Yayasan Cahaya Guru dan salah seorang pendiri Komunitas Pelatihan Pendidikan Al Izhar Pondok Labu, Jakarta.

Takaran pujian
Meski orangtua berniat baik, terlalu banyak dan sering memuji anak usia dini dapat berdampak buruk. Anak bisa sedikit-sedikit mencari persetujuan dari orang dewasa (dan kelak, dari orang lain), dan membuat anak takut mencoba hal baru atau takut gagal.

Di sisi lain, pelit memuji juga sama buruknya dengan terlalu mengobral pujian. Anak-anak akan merasa diri mereka tidak cukup baik, atau bahwa orangtuanya tidak peduli, dan mungkin jadi merasa tak ada gunanya bertingkah laku baik atau mengerjakan sesuatu dengan baik.

Jadi bagaimana menentukan takaran yang pas? Kata pakar, kualitas pujian lebih penting dari kuantitasnya. Jika dilakukan dengan tulus, penuh perhatian, dan berfokus pada usaha si anak (bukan hasil akhirnya). Boleh saja kok memberi pujian kala anak berperilaku atau melakukan hal baik.

Dalam hal pujian berbentuk verbal, pastikan bahwa pujian itu jelas. Misalnya, saat anak mencoba makan sendiri, maka pujian kita adalah, "Bagus sekali, kamu sudah makan sendiri." Kalau makan tanpa berantakan, "Wah, Ayah perhatikan kamu makan dengan rapi." Penting untuk dipahami bahwa anak perlu tahu perkembangannya sehingga pujian sebaiknya menggambarkan perkembangannya itu.

Apa pun kasusnya, pujian harus diberikan kasus per kasus. Artinya, setiap kali anak berperilaku baik dan melakukan hal baik, biarkan anak mengetahui perasaan Anda mengenai hal tersebut saat itu juga, dan bukannya direkap seperti, "Minggu lalu kamu sudah jadi anak yang baik."

Pujian juga sebaiknya diberikan secara proporsional sesuai dengan usaha yang dilakukan anak. Karena, jika Anda memujinya secara berlebihan saat ia melakukan sesuatu yang biasa saja, bagaimana Anda akan memujinya jika ia melakukan sesuatu yang lebih hebat?

(Tabloid Nakita/Amanda Setiorini)

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X