Perilaku Kekerasan dan Kesehatan Tidur Remaja

Kompas.com - 03/10/2012, 09:27 WIB

KOMPAS.com - Dengan terjadinya kasus kekerasan di antara pelajar kita, saya ingin menunjukkan salah satu faktor yang berperan besar namun kita abaikan selama ini, yaitu tidur. Terdengar absurd dan lucu di telinga awam, tetapi para ahli kesehatan tidur sudah maklum dengan hubungan sebab akibatnya.

Coba lihat diri kita. Suatu waktu kita bangun dengan rasa segar, positif dan bersemangat menghadapi segala tantangan. Di lain waktu kita bangun dengan rasa lemas, tak bersemangat, bahkan emosional. Selain faktor-faktor psikologis, pernahkah Anda pertimbangkan tidur sebagai faktor penentu kondisi emosi saat bangun tidur ?

Tidur Remaja

Usia remaja-dewasa muda merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kurang tidur. Penyebabnya adalah keunikan jam biologis pada usia ini.

Mary Carskadon, peneliti kesehatan tidur remaja di tahun 1980, mencatat bahwa kebutuhan tidur remaja adalah 8,5-9,25 jam tiap harinya, dengan jam mengantuk sekitar lewat tengah malam. Jadi, ketika orang tuanya sudah mengantuk pada jam 22:00, remaja justru sedang mencapai puncak vitalitasnya. Tak heran, jika kita temui dewasa muda yang lebih senang beraktivitas di malam hari. Belajar, membuat tugas, menulis, mencipta, dan berkarya terasa lebih optimal di waktu tersebut.

Dengan jam tidur tengah malam, dewasa muda harus sudah bangun di pagi hari untuk beraktivitas. Ada yang sudah harus bangun pukul 5 pagi untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Jelas generasi muda kita kekurangan tidur. Indonesia terancam kualitas generasi mudanya!

Selain durasi yang kurang, kita juga harus menyesuaikan jadwal aktivitas dengan jam biologis mereka agar dapat berfungsi optimal. Masuk sekolah jam 7 pagi jelas tak sesuai, apalagi jam 6:30 pagi. Coba lihat diri kita sewaktu masih di kelompok usia ini, pelajaran pertama tak ada yang menarik. Tetapi ketika sudah beranjak lebih siang, sekitar jam 9, seolah ada pasokan tenaga dan konsentrasi. Semua pelajaran yang diberikan jadi mudah masuk ke kepala.

Penelitian

National Sleep Foundation Amerika di tahun 2006 melakukan survei dimana didapati bahwa kebanyakan siswa merasa pagi hari adalah waktu yang paling menyebalkan. Ditemukan juga sejumlah siswa yang sering merasa tertekan. Siswa-siswa ini mungkin sekali mengalami gangguan tidur.

Sekitar 46 persen dari siswa melaporkan mood yang depresif. Siswa- siswa ini juga melaporkan berbagai masalah tidur, mulai dari sulit tidur, kurang tidur atau mengantuk di siang hari. Bahkan 73 persen remaja yang melaporkan rasa tak bahagia, sedih dan tertekan juga melaporkan kondisi kurang tidur dan mengantuk berlebihan di siang hari.

Sebelumnya, di tahun 1996, Mary Carskadon melakukan penelitian dengan memundurkan jam masuk sekolah dari 7:15 menjadi jam 8:40. Hasilnya angka kehadiran siswa meningkat, keterlambatan berkurang, kunjungan ke unit kesehatan sekolah menurun, angka kecelakaan lalu lintas menurun, para guru melaporkan keterlibatan dan konsentrasi siswa di kelas meningkat, prestasi olah raga juga meningkat dan atmosfer yang lebih tenang di sekolah. Yang mengejutkan para peneliti adalah adanya penurunan drastis angka kenakalan remaja.

Fakta

Tidur sama pentingnya seperti bernafas, makan dan minum. Ia adalah salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Kekurangan tidur akan amat merugikan. Kemampuan konsentrasi, mendengar, menangkap pelajaran dan memecahkan persoalan jadi terhambat. Semua jadi terasa lamban.

Halaman:


EditorAsep Candra

Close Ads X