Kompas.com - 09/10/2012, 09:01 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Selama ini, perempuan dianggap lebih mahir mengelola pos-pos keuangan dibanding para pria. Namun, sebuah survei menyatakan hal yang lain.

Survei Fin-Q  (Financial Quotient: Kecerdasan Finansial) Citi Indonesia pada Desember 2011 terhadap 500 responden perempuan di beberapa negara di Asia Pasifik menunjukkan, 74 persen perempuan, khususnya di Indonesia, belum memiliki rencana pensiun yang matang. Sedangkan 43 persen responden lainnya menyatakan bahwa mereka sudah tahu persis apa yang harus dilakukan untuk berinvestasi.

Temuan ini dinilai cukup mengkhawatirkan, karena perempuan seharusnya juga memiliki pemahaman yang baik untuk mengelola keuangan mereka dalam jangka pendek dan panjang. Sebab, data proyeksi penduduk dunia dari PBB tahun 2010 menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan lebih tinggi dari laki-laki dengan rasio 72,7 : 68,7 tahun. Secara tak langsung hal ini menjadi dasar bahwa perempuan harus lebih cermat dan pandai dalam  mempersiapkan diri menjelang masa pensiun agar memiliki kemandirian finansial.

"Kemandirian finansial dan kesiapan menjelang hari tua merupakan dua hal yang harus dipersiapkan sejak dini oleh perempuan, agar di masa tua tidak perlu bergantung pada orang lain," tukas Harsya Prasetyo, Senior Vice President Retail Investment and Consumer Treasury Head Citi Indonesia, dalam talkshow "Smart Investment in Ladies Way: Informed, Discipline and Patience" di Hotel Four Seasons, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lalu mengapa perempuan tidak segera mengalokasikan keuangannya untuk investasi atau persiapan pensiun?

 

Harsya menambahkan, ada ketakutan dalam diri perempuan untuk melakukan investasi dalam jangka panjang. Ketakutan ini didasarkan pada risiko yang mungkin saja dialami pada investasi yang dilakukan. "Para perempuan cenderung menggunakan pendekatan yang lebih konservatif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, sehingga terkadang mereka merasa kurang percaya diri untuk memulai investasi," jelasnya.

Di lain pihak, para suami juga belum sepenuhnya mendukung sang istri untuk berinvestasi. Selain itu, perlu disampaikan juga secara lebih meluas, bahwa investasi bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mapan.

Senada dengan Harsya, Hario Soeprobo, President Director First State Investment Indonesia mengungkapkan bahwa perempuan cenderung bersikap konservatif dan pria lebih cenderung oportunistik. Sikap oportunistik ini membuat para pria cenderung lebih berani untuk melakukan investasi dalam jangka panjang dan lebih berani berspekulasi.

Namun, meski demikian sikap oportunistik dan spekulasi tinggi ini tidak sepenuhnya harus dicontoh. Karena, dalam batasan tertentu sikap konservatif dan kehati-hatian perempuan ini bisa menghindarkan Anda dari keputusan dan iming-iming investasi yang salah, seperti, herding (ikut-ikutan), overconfidence (terlalu percaya diri), dan naive diversification (asal-asalan memilih).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X