Dengkur "Sleep Apnea" Ringankan Efek Serangan Jantung

Kompas.com - 31/10/2012, 16:50 WIB

KOMPAS.com - Kita tahu bahwa mendengkur buruk bagi kesehatan jantung. Tetapi penelitian terbaru yang diterbitkan pada jurnal kedokteran "Sleep and Breathing" memberikan sudut pandang baru tentang hubungan ngorok dan serangan jantung.

Sleep Apnea

Mendengkur dan kantuk berlebihan merupakan dua tanda utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Saluran nafas atas yang sudah sempit melemas saat tidur hingga mengakibatkan terhentinya aliran udara. Penderitanya tercekik saat tidur! Akibat sesak, mekanisme pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak untuk mengambil nafas.

Penderitanya tampak seolah tersedak dan menarik udara lalu lanjut mendengkur kembali. Karena terbangun-bangun singkat tanpa terjaga ini, penderita sleep apnea mengalami kantuk berlebihan walau tidur cukup lama. Selama tidur, terjadi penurunan oksigen, peningkatan tekanan dalam dada dan peningkatan sel-sel inflamasi yang semuanya berperan dalam berkembangnya penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah.

Serangan Jantung

Serangan jantung yang dibicarakan adalah infark miokard akut (IMA) yang terjadi sebagai akibat dari tersumbatnya arteri koroner sehingga aliran darah ke otot jantung jadi terbatas atau terputus sama sekali. Ini yang sering juga dikenal awam sebagai penyakit jantung koroner. Otot jantung seolah tercekik. Area jantung yang tercekik disebut juga sebagai area infark. Pada hewan percobaan, pengurangan oksigen saat malam hari terbukti meringankan akibat serangan jantung. Area infark jadi lebih kecil. Diduga efek perlindungan jantung ini disebabkan oleh ischemic preconditioning. Jantung telah terlatih dengan kondisi kekurangan oksigen.

Penelitian

Penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti dari Albert Einstein College of Medicine, Bronx - New York ini mencoba melihat efek perlindungan ini pada manusia. Mereka menilai derajat keparahan serangan jantung (IMA) dan hubungannya dengan sleep apnea. Derajat keparahan IMA dinilai dengan pengukuran kadar troponin-T. Troponin-T adalah penanda dalam darah yang menunjukkan adanya sel jantung yang mati.

Dari 136 pasien serangan jantung, didapati sebanyak 35 persennya menderita sleep apnea. Derajat keparahan sleep apnea dinilai dari AHI (Apnea-hypopnea Index) atau jumlah henti nafas setiap jamnya. Semakin tinggi AHI, semakin rendah pula kadar troponin-T dalam darah. Artinya semakin parah sleep apnea seseorang, semakin ringan pula kerusakan sel jantung yang dialami. Dalam penelitian ini, diperiksakan juga kadar creatine phosphokinase (CPK). CPK adalah enzim yang tinggi kadarnya saat terjadi stress pada otot. Pada serangan jantung, kadar CPK tinggi dianggap sebagai tahap akut dari serangan jantung. Disimpulkan juga bahwa sleep apnea tampaknya mempunyai efek perlindungan jantung pada tahap akut infark miokard.

Kesimpulan

Pasien pendengkur mengalami cedera otot jantung yang lebih ringan dibandingkan dengan pasien yang tidak. Disimpulkan bahwa sleep apnea melindungi otot jantung karena telah terlatih/terbiasa dengan kondisi iskemik, atau kurang oksigen. Namun para ahli mengingatkan juga bahwa sleep apnea sendiri berperan dalam berkembangnya penyakit jantung. Pemeriksaan dan perawatan sleep apnea tetap menjadi prioritas utama.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorAsep Candra

    Close Ads X