Melompat Indah di Lantai Balet

Kompas.com - 06/11/2012, 10:50 WIB

KOMPAS.com - Balet bukan sekadar tarian. Dalam balet, pencintanya belajar tentang keseimbangan, kekuatan, kelenturan, dan keindahan hidup.

Claresta Alim (21) tampil memukau ketika memerankan Cinderella pada pertunjukan balet Marlupi Dance Academy di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 2-4 November. Dengan dandanan seorang putri, ia berlari sambil melompat dalam gerakan grand jet, yaitu melompat dengan posisi kedua kaki lurus sejajar lantai.

Pasangan menarinya, Jun Tanabe asal Jepang, mempertontonkan gerakan memutar berulang-ulang pada satu kaki atau pirouette. Tepuk tangan penonton bergemuruh ketika tubuh Tanabe terlihat begitu ringan meloncat-loncat dengan gerakan indah.

Tari balet yang tampak ringan itu sejatinya dibentuk oleh gerakan-gerakan rumit yang membutuhkan latihan bertahun-tahun. Kedisiplinan menjadi kunci utama sehingga Claresta dan Tanabe begitu lincah menari balet.

Claresta jatuh cinta pada balet karena bertumbuh dalam keluarga penari balet. Neneknya, Marlupi Sijangga (75), sudah menjadi penari balet sejak sebelum Indonesia merdeka. Ibunya, Fifi Sijangga (46), turut mengajar balet hingga kini memiliki lebih 2.500 murid balet di Jakarta dan Surabaya.

Pada usia delapan tahun, Claresta sama sekali tak punya bekal untuk menjadi penari balet karena tubuhnya gendut dan pendek. Namun, ia pantang menyerah. Didorong mimpi menjadi penari balet profesional, Claresta lantas rajin berlatih hingga tubuhnya memanjang.

Setiap hari, ia menyediakan waktu hingga tiga jam untuk berlatih. Saking seringnya berlatih balet, Claresta bisa berganti pointe shoes atau sepatu khusus balet sekali dalam sepekan. Sepatu yang rusak harus diganti agar penari tidak cedera. Sempat mengambil kursus menari balet di Beijing Dance Academy dan Los Angeles Summer Ballet Intensive, kini Claresta menjadi guru balet di Art Ballet Theatre of Florida.

Kerja keras
Berbeda dengan Claresta yang berasal dari lingkungan balet, Resti Oktaviani (18) sama sekali tak memiliki warisan darah penari balet. ”Tapi, balet jadi kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan jadi suka. Latihannya harus serius, nggak boleh main-main,” kata Resti.

Dengan kerja keras berlatih 2-3 jam per hari dari usia empat tahun, Resti terpilih mewakili Indonesia dalam kompetisi balet Genee Award di Selandia Baru pada awal Desember mendatang. ”Nanti, aku harus membawakan tari balet buatan sendiri,” ujarnya menambahkan.

Kerja keras juga menjadi kunci utama keberhasilan Marlupi dalam memasyarakatkan tari balet. Marlupi berkenalan dengan balet pada usia 13 tahun, ketika menyaksikan anak-anak Belanda berlatih balet di Surabaya.

Marlupi lantas menjadi satu-satunya orang Indonesia yang berlatih di sekolah balet. Pada masa itu, balet masih menjadi barang langka. Marlupi harus berburu kain ke pasar-pasar tradisional untuk membuat baju balet. Sebelum pementasan, keringatnya sudah bercucuran karena harus menggotong sound system sendiri.

Ia lalu mendirikan sekolah balet sejak tahun 1956. Murid-muridnya berasal dari beragam lapisan sosial, dari bayi hingga orang dewasa. Mereka belajar tari balet bertaraf internasional dengan lisensi Royal Academy of Dance London dan Beijing Dance Academy. Hingga sekarang, Marlupi masih mengajar tari balet dari pagi hingga malam hari. Untuk memasyarakatkan balet, Marlupi antara lain meleburkan tari balet dengan cerita tradisional, seperti Joko Tarub. ”Supaya budaya kita bangkit,” tuturnya.

Halaman:


EditorDini

Close Ads X