Masyarakat Tanpa Uang Tunai

Kompas.com - 10/12/2012, 09:46 WIB

KOMPAS.com - Cashless society, apa maksudnya? Cashless society adalah kalangan yang dalam transaksi keuangannya tidak lagi menggunakan uang tunai, tetapi sudah dalam bentuk kartu, baik berupa kartu kredit, kartu debit, maupun cash card.

Lebih dari itu, dalam melakukan pembayaran kewajiban kepada pihak lain juga tidak lagi secara tunai. Semua dilakukan dengan cara elektronik, baik dalam bentuk internet banking, transfer melalui ATM, maupun phone/SMS banking.

Jadi, dalam keseharian, kalangan tersebut boleh dibilang tidak lagi memegang uang tunai. Kalaupun ada, hanya ala kadarnya. Sekadar untuk membayar parkir atau kegiatan-kegiatan yang membutuhkan uang tunai dalam jumlah yang kecil.

Arif dan terkontrol
Lantas, apa manfaat dari penggunaan transaksi nontunai itu? Banyak sekali. Namun, juga bisa berbahaya sekali. Mengapa? Karena cashless sebenarnya seperti pedang bermata dua. Jika yang menggunakan arif dan memahami fungsi pedang tersebut sekaligus bisa mengontrolnya, manfaatnya akan luar biasa.

Demikian juga dengan penggunaan kartu kredit dan kartu debit. Jika dilakukan dengan perencanaan, dampaknya akan baik. Sebaliknya, jika penggunaannya tidak dikontrol, dampaknya bisa lebih mengerikan ketimbang melakukan transaksi dengan uang tunai.

Umpamakan saja Anda tengah berjalan-jalan di mal lalu teman Anda membawa Anda ke toko yang secara kebetulan menjual barang yang menarik hati Anda. Sebelumnya Anda sama sekali tidak memiliki rencana membeli barang tersebut, tetapi karena di dompet Anda tersedia kartu kredit, tanpa pikir panjang, Anda membeli barang dimaksud dengan menggunakan kartu kredit. Sangat mudah. Anda hanya berpikir, toh, bayarnya nanti saja. Mungkin setelah gajian.

Namun, coba bayangkan jika hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Jelas, tagihan kartu kredit Anda akan membengkak dan sebagian penggunaannya untuk membayar barang-barang yang sebelumnya tidak direncanakan dibeli. Jika situasinya seperti ini, jelas penggunaan kartu kredit dapat menimbulkan masalah dalam pengelolaan keuangan Anda.

Bagaimana dengan kartu debit? Tidak jauh beda. Sebagian kalangan lebih suka menggunakan kartu debit ketimbang kartu kredit dengan alasan bisa mengontrol dan tidak perlu membayar bunga. Namun, dalam realitas penggunaannya bisa saja mirip dengan perilaku ketika menggunakan kartu kredit. Konkretnya karena tidak menggunakan uang tunai, berasa seperti tidak mengeluarkan uang. Jadi, kartu debit pun digunakan dengan mudah.

Yang terjadi kemudian, saldo di tabungan menjadi berkurang drastis akibat penggunaan yang tidak terkelola. Ya, kata kuncinya adalah bagaimana mengelola penggunaan kartu, apa pun kartu itu ketika ingin menjadi bagian dari cashless society.

Perilaku penggunaan
Lantas bagaimana baiknya? Menjadi bagian dari cashless society atau menggunakan nontunai dalam transaksi pembayaran apa pun pada dasarnya adalah sesuai dengan semangat zaman. Adalah hal yang mustahil untuk mengantongi uang dalam jumlah besar. Bukan hanya soal keamanan, melainkan juga kenyamanan. Namun, lepas dari faktor tersebut, penggunaan alat pembayaran nontunai tentu sebaiknya memenuhi kaidah tertentu.

Pertama, ketika melakukan pengeluaran/transaksi, baik secara tunai maupun menggunakan kartu, tetap mesti berdasarkan suatu perencanaan keuangan. Yang berbeda hanya dalam praktiknya, yakni bisa cash dan bisa noncash. Ini menjadi falsafah paling dasar. Sebab, kalau tafsirnya berbeda alias penggunaan kartu dianggap bukan pengeluaran, mau menggunakan tunai atau nontunai akan sama-sama menimbulkan masalah.

Kedua, memilih alat transaksi pembayaran yang sesuai dengan karakter pribadi. Apa maksudnya? Jika Anda seorang yang cenderung boros, penggunaan kartu debit akan lebih mengekang untuk melakukan pengeluaran yang berjumlah besar. Mengapa? Karena pengeluaran yang besar akan langsung mengurangi tabungan seketika itu juga. Bagi sebagian kalangan, ketika melihat jumlah tabungannya berkurang, biasanya akan muncul penyesalan dan rasa kurang enak. Jika hal ini berlangsung berulang-ulang, pemilik dana akan terdorong mengubah perilaku menjadi lebih hemat.

Ketiga, memilih penerbit kartu yang memiliki jangkauan luas dan kredibilitas teruji. Apa maksudnya? Penggunaan kartu debit dan atau kartu kredit memang memudahkan, tetapi juga menambah risiko, baik itu risiko kehilangan kartu, penyalahgunaan, maupun pemalsuan. Nah, penerbit kartu yang kredibel biasanya telah memberikan perlindungan berlapis agar nasabahnya terhindar dari masalah-masalah seperti itu. Jadi, tanpa bermaksud mengecilkan ”pemain baru” dalam bisnis kartu, penerbit yang sudah berpengalaman ada baiknya menjadi pilihan utama.

Kesimpulannya, tidak ada salahnya masuk sebagai bagian dari cashless society. Sebab, secara teknis memang akan memberi banyak kemudahan dalam melakukan transaksi. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengubah perilaku penggunaan transaksi. Sebab, jika perilaku penggunaan uang tetap sama, mau disebut sebagai transaksi tunai ataupun nontunai, sama-sama akan menimbulkan masalah.

(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)

 



EditorDini

Close Ads X