Sepiring Akulturasi Budaya Peranakan

Kompas.com - 26/12/2012, 08:34 WIB

Oleh Mawar Kusuma

Restoran yang mengusung budaya peranakan tampaknya masih akan terus tumbuh. Masakan peranakan–yang kental dipengaruhi budaya China–di restoran-restoran semacam ini menjadi contoh nyata dari akulturasi budaya yang terjadi di piring.

Di Jakarta, setidaknya lebih dari setengah lusin restoran yang mengusung pendekatan peranakan. Beberapa dari restoran peranakan tersebut adalah Tjap Toean dan Shanghai Blue 1920. Restoran Tjap Toean pertama kali dihadirkan di pusat perbelanjaan Citywalk Building sebelum membuka cabang baru di Mall fX. Tjap Toean membawa gaya warung pecinan yang biasa ditemui di Glodok tempo dulu untuk dikembangkan di wilayah selatan Jakarta.

Suasana warung dibangun dengan menghadirkan aneka benda antik mulai dari rantang dan panci kuno hingga pintu harmonika yang dilengkapi gembok besar. Jessy Williams (31) berburu barang antik itu ke beberapa daerah di Jawa. Miniatur bangunan warung zaman dulu turut dihadirkan di antara kursi dan meja dari kayu jati tua berkapasitas 110 orang di Tjap Toean fX.

”Kami ingin tamu-tamu bernostalgia tiap kali ke Tjap Toean,” kata Pemilik Restoran Tjap Toean, Faizal Admodirdjo (34).

Etalase di bagian bar juga dibuat sama persis seperti kaca bersudut milik penjual bubur atau pedagang mi ayam yang biasa mangkal di Glodok. Dinding restoran dihiasi poster gadis cantik Tionghoa dengan kredo wok & roll yang merupakan pelesetan dari rock & roll.

Berbeda dengan Tjap Toean, secara penampilan Shanghai Blue 1920 di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, tampil lebih berat. Pencahayaan remang-remang, foto-foto tempo doeloe, poster-poster bergaya kuno, dan perabot yang gelap dan berat. Perlengkapan makan pun menggunakan piring-piring antik tiruan dari zaman Dinasti China dan sendok logam yang terasa berat.

Restoran ini terinspirasi dari kisah kedatangan perantauan seorang pelaut asal Shanghai bernama Nko Mo San yang berlabuh di Sunda Kelapa sekitar akhir abad ke-19. Putra dari Nko Mo San, Chan Mo Sang, kemudian menikahi gadis Betawi bernama Siti Zaenab. Pasangan ini lalu mendirikan warung sederhana tempat minum teh, yang lama kelamaan populer sebagai tempat kongkow di zaman itu.

Semur Mpok Zaenab

Beberapa masakan yang bisa dicoba di Shanghai Blue misalnya, sop burung dara, sayur delapan macam, dan semur lidah Mpok Zaenab. Sop burung dara yang cocok sebagai pembuka ini dihidangkan cukup manis dengan mangkuk yang disisipkan dalam selongsong bambu. Daging burung dara dijadikan bakso dalam kuah kaldu bening dan beberapa iris umbi lotus yang cantik. Bakso terasa lembut dan gurih, cocok dipadukan dengan irisan lotus yang renyah.

Sementara, sayur delapan macam merupakan tumisan serupa capcay yang terdiri dari jamur kuping hitam, jamur shitake, jamur champignons, kacang polong, kecambah, tahu, rebung, dan jagung mini. Tumisan ini terasa cocok disantap dengan semur lidah Mpok Zaenab yang didominasi rasa manis.

Nasi ungu

Halaman:


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X