Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/01/2013, 17:42 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Sebagai tempat perawatan orang sakit, rumah sakit menjadi tempat berkembang biaknya kuman dan rawan terjadinya penularan infeksi. Dalam bahasa medis, infeksi itu disebut dengan infeksi nosokomial.

Infeksi nosokomial bisa terjadi dari penularan pasien ke pasien lain, dari pasien ke pengunjung atau keluarga, atau dari petugas ke pasien. Transfer mikroba bisa didapat petugas saat melaksanakan tindakan atau perawatan pasien.

"Penularan juga bisa terjadi melalui udara, misalnya saat bersin, batuk, berbicara. Kontak jarak dekat antara 60cm- 1m bisa mempermudah transmisi ini," kata Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia Costy Pandjaitan, dalam acara jumpa pers simposium pencegahan infeksi nokosimal yang diadakan Unilever dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jakarta, Kamis (10/1/13).

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), infeksi nosokomial merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Infeksi ini menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di dunia. Di Indonesia, dalam penelitian di 11 rumah sakit di Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan 9,8 persen pasien rawat inap mendapat infeksi nosokomial.

Saat ini, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia. Menurut Robert Imam Sutedja, Ketua Kompartemen Umum dan Humas PERSI, izin rumah sakit dapat dicabut apabila angka kejadian infeksi tersebut tinggi.

Infeksi nokosomial dapat dicegah dengan selalu menjaga kebersihan tangan melalui cuci tangan dengan sabun antikuman. Cuci tangan memakai sabun wajib dilakukan petugas medis sebelum dan setelah menangani pasien.

"Larangan besuk bagi anak berusia di bawah 12 tahun sebenarnya juga untuk mencegah mereka terkena infeksi karena daya tahan tubuhnya masih rendah," kata Robert.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.