Menjadi "Follower" dengan Hati

Kompas.com - 16/01/2013, 11:01 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Siapa yang tidak suka bila punya bawahan yang bersikap patuh? Kepatuhan anak buah kerap dijadikan indikator efektivitas kepemimpinan, bukan? Sasaran yang kita tetapkan bagi tim dan organisasi, memang hanya bisa dicapai bila bawahan mau menerima arahan, melakukan apa yang dikatakan oleh atasan.

Namun, bila bawahan patuh pada pemimpin semata karena alasan formal dan birokrasi, apakah kita tetap bisa mengatakan kepemimpinan kita efektif? Bayangkan betapa tegangnya hubungan dalam lingkungan kerja bila kepatuhan bawahan tidak didapatkan secara sukarela. Padahal, hubungan baik atasan-bawahan menjadi penentu dalam keberhasilan komunikasi, maupun coaching yang akan mewarnai keseharian atasan-bawahan.

Seorang pimpinan yang unit kerjanya mengurusi kualitas servis, secara tegas meminta bawahan untuk menservis dirinya sebagai atasan. Para bawahan diminta untuk melakukan setiap apa yang ia minta, meskipun tidak selalu terkait pelayanan seputar kebutuhan kerja, baik itu membukakan pintu, mengawal beliau dalam setiap kesempatan, menyajikan hidangan sesuai seleranya sebagai atasan, bahkan bila diperlukan, membawakan tasnya.

Pemimpin ini sebetulnya bertujuan baik, yaitu mengajarkan bahwa sikap menservis harus betul-betul menjadi darah daging individu. Namun demikian, memaksakan kepatuhan seperti itu ternyata tidak mempan untuk membuat individu “belajar” sesuatu, bahkan sebaliknya, membuat para bawahan terasa “melayani” dengan setengah hati, semata karena takut dimarahi. Tindakan memaksakan kepatuhan ini, bukankah malah memperlebar jarak yang ujung-ujungnya akan membuat pimpinan semakin merasakan fenomena “it's lonely at the top”?

Handry Satriago, yang membuat penelitian mengenai followership dalam disertasi doktoralnya, mengingatkan betapa dalam upaya meningkatkan efektivitas organisasi, kita tidak bisa sekadar menguatkan kepemimpinan saja, namun followership harus diperhitungkan. Orang bisa saja patuh, tetapi belum tentu mereka adalah follower yang sebenarnya. Pemimpin tidak bisa sekadar mengatakan "follow me" dan berharap bawahan rela dan mem-follow dengan hati.

Followership” adalah kesukarelaan untuk bekerja dalam mencapai target, misi, sambil menunjukkan kerjasama dengan keinginan berkohesi tingkat tinggi. Follower tidak buta, mereka juga berespons secara rasional. Tanpa terasa sebenarnya ada kontrak psikologis antara atasan dan bawahan.

Deckop, Mangel dan Cirka, dalam paparannya, mengungkapkan tiga hal yang mempermudah atasan untuk menciptakan kontrak psikologis ini, yaitu: sikap menolong, kehati-hatian dan sportmanship. Dengan menunjukkan sikap ini, atasan bisa lebih bebas untuk menuntut bawahan berkinerja lebih di atas harapannya.

Seorang atasan, tidak mungkin mendapatkan followers yang kuat, bila ia tidak menaruh perhatian kuat ke setiap individu dalam timnya. Dalam banyak hal, pemimpin juga perlu memahami bawahannya, ketimbang bawahan yang harus memahami atasan. Inilah yang juga kita butuhkan untuk mendorong coaching bisa memberi dampak, tidak hanya bagi individu, tapi bagi kesuksesan atasan sendiri, juga tim.

Powerful “Buy In”
Kita tidak boleh lupa bahwa hal yang ditargetkan dan diupayakan oleh pemimpin bukan sekadar sikap manut, tapi lebih pada “powerful buy in”. Bagaimana caranya?

Solusi atas suatu masalah tidak bisa sekadar kita suapkan pada bawahan, tapi perlu disampaikan dengan alasan yang masuk akal. Atasan bisa saja menginstruksikan dan memberi pengarahan sampai sedetail-detailnya, namun risikonya para coachee ini akan kehilangan imajinasi. Jadi, solusi harus “dijual” dengan pendekatan yang tepat, sehingga coach akan direspek oleh coachee-nya. Respek inilah dasar penerimaan coachee untuk menerima ide baru, kerangka pikir baru yang diusulkan si coach. Tinggal, secara aktif, sang coach menjaga respek dan ketajaman solusinya untuk menjaga hubungan saling percaya ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X