Merayakan Sukses dalam Menjalani Pekerjaan

Kompas.com - 21/01/2013, 10:02 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Seorang teman, yang menduduki posisi cukup tinggi di dalam organisasi, selalu terlihat ceria dan mencintai pekerjaannya. Temannya sampai berkomentar bahwa terkadang ia terlihat lebih happy dari owner perusahaan, yang jelas-jelas lebih berada dan lebih powerful daripada dia.

Cukup surprising, ketika ditanya apa rahasianya, teman ini mengatakan ,”Saya sukses terus”. Padahal, kita tahu bahwa persoalan yang dihadapinya tidak sedikit. Selain beban kerja yang tinggi, atasannya pun kelihatan menuntut banyak. Jadi, kita bisa melihat bahwa kesuksesan itu sangat subyektif dan sangat tergantung bagaimana orang melihatnya.

Sebaliknya, seorang teman lain yang pintar dan berprestasi, begitu jarang merasa sukses, bahkan tidak pernah terlihat merasa puas dengan apa yang ia kerjakan. Selalu saja ia melihat banyak kekurangan yang harus diperbaiki dari dirinya. Komentar dan pujian orang di sekitarnya yang meyakinkan bahwa hasil kerjanya baik, seolah tidak mempan. Apakah begitu sulit mempercayai apresiasi atasan dan rekannya, sehingga ia tetap menganggap bahwa pekerjaannya “belum apa-apa”? Mengapa orang merasa berjarak dengan sukses, bahkan tidak bisa melihat kesuksesannya sendiri?

Rasa sukses yang sering tidak kita pikirkan ini, seakan hal sepele, namun tentu saja besar dampaknya bagi self-esteem kita, juga bagi happiness. Tanpa memelihara rasa sukses dan happiness, bagaimana kita akan mendorong semangat untuk memacu produktivitas dan mencetak sukses-sukses lain?  

Dunia kerja memang bukan seperti dunia olah raga di mana “kalah-menang”, sukses tidak selalu sukses sangat nyata. Kesuksesan dalam dunia kerja sangat relatif dan subyektif, mengingat dalam dunia kerja, banyak kegiatan kita yang terkait imajinasi, konsep, ide-ide, kepuasan customer, pengembangan diri, penguatan kecerdasan emosi, pengembangan anak buah, dan bukan semata pekerjaan fisik yang kuantitas dan kualitasnya langsung bisa teraga. Apalagi bagi banyak orang yang berfikir bahwa ia memang "makan gaji", sukses atau tidak dalam bekerja itu nomor dua, yang penting ini adalah matapencaharian. 

Di era kompetitif, di mana beban kerja bisa ditumpuk dalam hitungan detik, kita betul-betul juga harus mempertimbangkan wellness management, bukan secara defensif, tetapi justru secara proaktif. Kita perlu aktif membangun rasa happy di pekerjaan, karena kerja demikian penting bagi hidup kita, mengisi sebagian besar waktu kita, sehingga tidak bisa kita biarkan berlalu dalam keadaan "galau" atau terbebani. Tanda kesuksesan sekarang sudah berubah. Kita tidak selamanya mengukur apa yang kita "punya" dan "dapat" lagi, tetapi lebih ke apa yang kita rasakan di pekerjaan.

Musuh-musuh sukses
Mari kita cermati hal-hal yang bisa membuat kita menumpuk emosi negatif sehingga kita begitu sulit merasa sukses atau merasa happy. Kita kerap mengeluhkan pekerjaan yang berat, atasan yang tidak fair, perusahaan yang kulturnya negatif, sehingga kita seolah merasa selalu berada dalam posisi sulit.

Sebenarnya pertanyaannya, apakah ini hanya sekadar fenomena menjebak diri sendiri dalam situasi mengeluh, menggerutu dan berbicara di "belakang"secara berkelanjutan? Padahal kita semua tahu, bahwa pikiran negatif ini pasti membuat kita tidak produktif dan tidak memungkinkan perasaan sukses. Tanpa kita sadari, kita kerap memelihara perasaan "menjadi korban" dari pihak-pihak yang sebenarnya tidak perlu membuat kita menjadi korbannya.

Hal yang memperburuk keadaan adalah bila kita mencari teman senasib, yaitu teman berbagi rasa tidak happy, pesimis, dan mencerca diri sendiri. Kelompok orang-orang frustrasi ini biasanya juga berbagi cerita-cerita yang dibumbui konspirasi bahwa manusia memang selalu berlatar belakang buruk. Pilihan untuk mencari teman yang lebih optimis sebenarnya selalu ada, tetapi si pesimis umumnya akan segera menemukan pesimis lainnya sehingga mereka justru akan lebih terjebak pada perasaan "tidak berarti" yang lebih dalam. Apalagi kalau kita berkonsentrasi pada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, seperti situasi politik yang seram, serta korupsi yang merajalela.

Namun, bukankah sesungguhnya banyak hal di dunia kerja kita yang memang lebih mudah dikontrol dan lebih mudah diperbaiki daripada situasi-situasi itu? Seorang atasan, yang merasa frustrasi karena punya bawahan yang tidak bisa diandalkan 100 persen, sebetulnya bisa melihat bahwa banyak orang di tempat lain menghadapi situasi yang sama. Bukankah dalam situasi ini kita lebih baik berpikir untuk “work with what we got” daripada berfantasi untuk mendapatkan bawahan yang lebih bermutu?

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X