Menciptakan Makna dalam Kerja

Kompas.com - 29/01/2013, 09:25 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Saya terkesan pada seorang teman, ia adalah Product General Manager di perusahaan multinasional yang beroperasi secara global. Ia sudah benar-benar pekerja internasional. Hidupnya naik turun pesawat. Gaji dan upah sangat berlebih.

Pada suatu hari ini memutuskan untuk kembali ke tanah air, berpikir untuk bekerja di sebuah sekolah saja. Apa alasannya? Ia mengatakan bahwa pada suatu titik ia merasa bahwa ia hanya ingin berbuat lebih banyak untuk keluarganya dan bahkan buat negaranya. Meskipun pada akhirnya, ia tetap bekerja sebagai profesional di bidangnya, namun ia memilih berkarya di perusahaan swasta nasional yang dikenal tidak modern, bahkan tidak terlalu kondusif, karena ingin lebih menikmati kariernya sendiri. Lagi-lagi kita diingatkan betapa gaji tinggi tidak selalu dicari dan tidak selalu memuaskan orang.

Di sisi lain, kita tetap melihat banyak profesional "kutu loncat" yang menggunakan uang sebagai ukuran kesuksesannya. Beberapa profesional yang berusia 35-45 tahun, kerap mengeluhkan generasi milenial, yaitu mereka yang baru lulus atau baru bekerja profesional 2-3 tahun. Generasi termuda ini sering dianggap bekerja “suka-suka”, tidak disiplin dan tidak serius. Benarkan begitu? Benarkah kelompok ini tidak serius dalam memikirkan "arti" bekerjanya?

Penelitian mengatakan bahwa generasi muda ini memang sangat pandai hitung-hitungan, juga lebih peka terhadap uang. Namun, mereka sekaligus mempunyai pendapat yang kuat mengenai tempat kerja. Mereka lebih terbiasa dengan feedback dan transparansi. Mereka pun bisa mengembangkan tanggung jawab yang besar, bila mendapat kepercayaan dari organisasi.

Anak-anak muda ini tampaknya lebih percaya pada organisasi yang tidak birokratis tetapi akuntabilitasnya jelas. Jadi sebenarnya, memaknai pekerjaan bisa berbeda-beda pada setiap individu. Hal yang juga nyata adalah bahwa makna pekerjaanlah yang menentukan apakah seseorang akan eksis terus di pekerjaan, punya semangat yang seolah tidak ada matinya, dan tetap happy.

Kehidupan sosial memberi makna
Dari studi kepuasan kerja yang terkenal seperti teori Abraham Maslow, kita tahu bahwa dasar dari kebutuhan manusia bekerja adalah uang, yang lalu diikuti oleh rasa aman. Selanjutnya, kebutuhan sosial-lah yang dicari orang bila ia sudah mapan dalam kebutuhan fisiknya. Ya, tempat kerja adalah arena sosial, orang tidak bisa happy bila ia bekerja sendirian.

Dari sinilah kita bisa melihat bahwa kehidupan sosial bisa membantu individu untuk mencari makna kerjanya. Itu sebabnya, acara-acara kebersamaan tidak bisa disepelekan, karena dalam event seperti inilah mutu hubungan interpersonal ditingkatkan. Kegiatan sosial yang efektif bahkan bisa mencapai tingkat saling kritik membangun dan bermaafan dengan tulus. Bila ini tercapai, maka pergaulan di kantor akan memaknai kehidupan individu.

Keterlibatan dalam kelompok sosial memang bisa sangat berarti, bahkan membuat individu melalui keyakinannya bisa berprestasi dobel. Southwest Airlines, contohnya, bisa survive karena sense of belonging para karyawannya. Apalagi bila kebersamaan ini diwarnai dengan kebanggaan dan dipercayanya individu menjadi duta lembaga dan diberi kepercayaan untuk berkreasi.

"Meaning amplification" juga bisa dikembangkan dari minat kehidupan sosial individu. Bila kerja tim selalu digaungkan sebagai tindakan tolong-menolong, individu akan lebih suka bekerja tim. Saat ini terjadi, bukan pelanggan saja yang impressed, namun karyawan pun bisa merasa bekerja sama.

Kita tahu perusahaan seperti Starbucks menggaungkan tagline: “one person, one cup and one neighborhood”, yang impact-nya membuat karyawan bangga menjadi bagian perusahaan. Mereka mendapatkan "rasa" bahwa mereka berkontribusi bukan hanya ke perusahaan, tetapi juga membantu kehidupan masyarakat.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X