Pengembangan Transjakarta Dinilai Melenceng

Kompas.com - 30/01/2013, 04:19 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Sudah empat hari terakhir kopaja AC jurusan Ragunan-Grogol dan Lebak Bulus-Senen bisa melaju di jalur bus transjakarta. Kopaja menggunakan jalur bus transjakarta saat rutenya bersinggungan dengan trayek bus berjalur khusus itu.

Seperti terlihat pada Selasa (29/1) di sejumlah halte bus transjakarta di Jalan Rasuna Said, calon penumpang yang berniat menggunakan transjakarta dan meneruskan perjalanan ke tempat tujuan dengan kopaja bisa langsung membeli tiket Rp 5.000.

”Saya mau ke Grogol. Mungkin pakai tiket terusan ini bisa lebih cepat. Yang jelas lebih murah,” kata Nindi (23), mahasiswa yang ditemui di halte di depan Plaza Festival, kemarin.

Kebijakan memasukkan kopaja AC di jalur bus transjakarta merupakan ketetapan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan efektivitas bus transjakarta ataupun angkutan umum reguler.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, kebijakan yang disebut direct service ini baru bisa merangkul kopaja AC karena baru bus tersebut yang memiliki pintu samping tinggi seperti bus transjakarta. Selain itu, kopaja AC sudah memiliki standar layanan tersendiri layaknya bus transjakarta, seperti pendingin ruangan, bahkan fasilitas wifi di dalam kabin.

Akan tetapi, kebijakan ini tidak mendapat sambutan positif dari sejumlah pihak. Direktur Operasional PT Jakarta Express Trans (JET) Payaman Manik berpendapat, mengizinkan angkutan umum lain melaju di jalur transjakarta melenceng dari ide awal pembangunan dan pengembangan bus transjakarta.

”Dulu kita diminta berkumpul, berembuk pada saat Sutiyoso jadi gubernur tahun 2003. Disamakan visi-misi untuk menyediakan angkutan umum massal modern dengan mengedepankan pelayanan maksimal. Empat pengelola bus umum, PPD, Pahala Kencana, Steady Safe, dan Bianglala, menyanggupi bergabung dalam satu perusahaan menjadi operator bus transjakarta koridor 1,” kata Payaman Manik.

Namun, Manajer Operasional PT JET Marulam Hutabarat menambahkan, dengan berjalannya waktu, kualitas layanan transjakarta terus menurun karena pemegang wewenang yang menjamin operasional bus transjakarta tetap optimal seperti terlepas dari tujuan awal.

”Jalur koridor 1 saja yang selama ini steril dan berada di kawasan premium, yang seharusnya mudah diawasi, sudah diserobot kendaraan lain,” kata Hutabarat.

Bangun jaringan

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X