Hubungan yang Cair antara Atasan-Bawahan

Kompas.com - 04/02/2013, 10:13 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Seorang teman dikenal memiliki reputasi sebagai “supersalesman”. Kemampuannya dalam product knowledge dan mempersuasi pelanggan tidak diragukan lagi. Dengan catatan prestasinya ini, ia diangkat menjadi manajer penjualan dan ditantang untuk membawahi 10 orang salesman.

Dengan track record seperti ini, saat ia memangku jabatan baru, kita tentu mengharapkan sudah tidak ada resistensi lagi dari anak buah. Namun ternyata, terasa benar ada ketidakinginan anak buah untuk bekerja sama dengannya, bahkan ada bisik-bisik yang mendiskreditkannya. Ia yakin bahwa dengan kemampuan sales-nya, suatu saat ia akan bisa memimpin tim dengan baik. 

Namun demikian, momentum itu tidak kunjung datang. Ia tetap sulit mingle dengan anak buah. Pertanyaannya ditanggapi dengan muka kecut, jawaban seadanya, bahkan kerap membuat berang anak buah. Padahal, ia tidak pernah mengungkapkan kata kata-kasar, memarahi, atau menyudutkan anak buah. Timbul pertanyaan, mengapa orang bisa-bisanya menutup hati untuk suatu hubungan baik, sehingga seolah-olah ada dinding yang tidak tertembus?

Kita tentu bertanya-tanya, apa yang membuat seseorang tidak bisa memulai hubungan dengan bawahan? Padahal, kita sadari betapa kepemimpinan bisa macet, bila tidak ada hubungan interpersonal yang lancar antara atasan dan bawahan. Situasi ini juga membuka mata kita betapa pembentukan hubungan baik merupakan dasar dan menjadi persyaratan utama dari kepemimpinan, juga hubungan coaching-mentoring.

Dalam ilmu psikologi, pencairan hubungan antara satu orang dengan yang lain ini disebut "rapport". Rapport ditandai keinginan kedua belah pihak untuk saling menguatkan. Para ahli mengatakan bahwa dasar dari rapport adalah menghilangnya rasa curiga dan tumbuhnya rasa percaya. Pertanyaannya, mengapa ada orang yang begitu sulit menembus dinding penahan rasa percaya ini?

Membuka diri dengan "life lessons”
Seorang teman, bercerita bahwa ia pernah mendapat sahabat justru ketika ia mengalami kecelakaan kecil. Saat itu, orang yang menyaksikan menaruh iba dan menunjukkan empati pada kejadian yang dialaminya. Momen ini kemudian membuka jalan keduanya lebih membuka diri dan tidak ragu untuk berbagi pengalaman hidup, sehingga tanpa disadari hubungan baik pun terbentuk.

Namun, membuka diri memang bukan hal yang mudah. Dalam hubungan bisnis atau hubungan atasan-bawahan, kita sering dikelabui oleh hubungan yang diwarnai oleh wewenang, sehingga seorang anak buah terpaksa mematuhi perintah atasan, ataupun seorang customer service memang mempunyai keharusan melayani pelanggan. Rapport tidak terjadi.  

Dalam hubungan atasan-bawahan, di mana atasan menuntut bawahan untuk berprestasi, tetapi sekaligus belajar, hubungan tanpa rapport tidak akan mempan. Ini sebabnya, atasanlah yang perlu aktif berstrategi membina rapport. Kitalah yang mesti membiarkan diri mengalami penetrasi sosial. Kuncinya sebetulnya sederhana, orang bisa dengan mudah masuk dalam hubungan yang lebih mendalam, bila mengenal orang lain secara lebih mendalam. Artinya, pengenalan tidak di permukaan saja.

Bayangkan bagaimana rasa percaya dan hubungan bisa mendalam, jika banyak hal dalam kehidupan pribadi ataupun di pekerjaan dirahasiakan, disembunyikan, ditutup-tutupi? Membuka diri bukan berarti membuka aib kita. Namun, yang kita bagi adalah pelajaran hidup atau “life lessons” secara rendah hati, yang diperoleh dari asam-garam pengalaman.

Seorang coach basket mengatakan bahwa bila ia tidak berbagi life lessons dengan timnya, maka timnya tidak akan mengembangkan kualitas hubungan baik antar tim. Ia memberi contoh, bahwa dengan mengajak anggota tim untuk memberi bantuan pada orang-orang yang memerlukan, kelompoknya lebih peka terhadap kegiatan memberi. Hal yang kemudian dipelajari oleh anggota tim adalah bahwa membuat seseorang senang juga membuahkan kesenangan.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X