Hubungan yang Cair antara Atasan-Bawahan

Kompas.com - 04/02/2013, 10:13 WIB
EditorDini

Hal-hal inilah yang bernilai jauh lebih besar daripada pengajaran "hardskill” yang lebih teraga, namun ini juga yang sering dilupakan para atasan. Padahal banyak sekali hal-hal yang bisa di-share, yang juga akan membangun simpati ke diri kita. Misalnya, kebiasaan bicara apa adanya, bersikap proaktif, kerja keras, berusaha memahami orang lain tanpa minta dipahami, tidak mengeluh, dan selalu memfokuskan perhatian pada hal-hal yang positif.

Dalam hubungan atasan-bawahan atau tim, seorang atasan juga bisa berbagi, tentang bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana ia belajar atau bagaimana ia menyayangi orang di sekitarnya. Kita perlu berani mengekspos life lessons kita pada anak buah, karena mau tidak mau, sebagian besar dari materi coaching juga berisi life lessons: “laws of life”, ”truths of life”, yang berupa sikap dan nilai-nilai kehidupan. Rapport akan lebih mudah terbentuk bila daya tarik dan familiarity sudah terjadi.

Menciptakan "rasa dimengerti”
Rapport terjadi bila individu merasa aman sepenuhnya dengan keberadaan kita. Selain itu, ia perlu merasa bahwa ia dimengerti. Ini sulit terjadi bila atasan terlalu sibuk dengan agenda dirinya dan memikirkan dirinya sendiri.

Untuk itu, atasan perlu untuk sementara waktu bersikap selfless dan "selesai" dengan dirinya sendiri. Caranya, antara lain dengan menunjukkan dirinya 100 persen siap menolong, menghadapi orang lain dengan tulus, dan penuh minat mencari tahu tentang keadaan bawahan. Sikap proaktif seorang pemimpin tetap harus terarah pada anggota tim, bukan kepada dirinya sendiri. Karisma dan sikap saling mengerti hanya terarah pada anggota timnya, tidak pernah memikirkan untung rugi atau timbal baliknya hubungan.

Ketika mengajukan pertanyaan atau ditanya, kita pun perlu bersikap sebagai “open space listener”, yaitu dengan sabar menunggu jawaban dan pendapat orang lain, tanpa kehendak untuk mengeluarkan pendapat kita sendiri. Sebab, agenda kita memang tidak lain daripada membuat orang lain merasa dimengerti. Hanya dengan upaya keras untuk membuat impact pada pihak lainlah kita bisa membina hubungan kondusif yang ujungnya bisa memengaruhi anggota tim kita untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X