Kompas.com - 04/03/2013, 10:52 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Gambaran orang Jepang yang berkulit putih, berkimono, dan berbibir mungil terabadikan menggemaskan dalam boneka kayu. Namun, ini bukan boneka dari ”Negeri Sakura”, melainkan kelahiran asli Bandung.

Dari garasi rumah Ceppy Setiawan (57) di Jalan Pagarsih, Bandung, Jawa Barat, lahir sekitar 3.000 boneka model Jepang menggemaskan setiap bulan. Kayu bekas peti kemas yang berciri putih bersih dengan guratan serat kayu halus dibubut menjadi tubuh boneka. Rambut, mata, hidung, bibir, dan motif pakaian khas Jepang lalu dilukiskan di atas kayu. Ada boneka yang lebih sulit pembuatannya, seperti boneka dengan kimono dari tumpukan kayu. Boneka-boneka lucu itu berukuran mulai dari 7 cm hingga 40 cm.

Ceppy Setiawan, pendiri perusahaan Vildea yang memproduksi boneka-boneka Jepang, memasarkan karyanya lewat pameran, situs internet, gerai di hotel, dan department store. Sebagian boneka dipasarkan oleh pedagang di sejumlah kota, seperti Jakarta, Bali, Jawa Timur, Sumatera, dan Kalimantan.

Beberapa kali staf Kedutaan Besar Jepang di Indonesia berbelanja boneka untuk buah tangan ke pabrik boneka Ceppy. ”Kadang mereka butuh suvenir dalam waktu cepat. Kalau ke Jepang, barangkali lama dan mahal. Jadi, belanja di sini, he-he-he,” ujarnya.

Sebelum krisis moneter 1998, boneka model Jepang buatan Ceppy dan sejumlah pekerjanya telah melanglang ke luar negeri, seperti Australia, Kanada, dan Singapura. Begitu krisis menerpa pesanan dari luar negeri berkurang lalu benar-benar berhenti.

Berawal dari hobi
Bisnis boneka model Jepang itu bermula dari hobi Ceppy membuat perabot berbahan kayu bekas. Hasil dari hobi yang rada serius itu tersebar di dalam rumahnya mulai dari satu peranggu dapur (kitchen set), kursi, hingga meja. Saking hobinya, Ceppy membeli mesin bubut untuk membentuk bulatan dan oval dari kayu sebagai pendukung mebel.

”Waktu membuat bulatan dan oval dari kayu dengan mesin bubut itu, saya iseng berpikir kayaknya kalau kayu bulat dan oval itu dibuat boneka bakal bagus,” ujarnya. Dia mencoba membuat boneka yang diinginkan dan mengoleksinya.

Akhir tahun 1996, Ceppy mengikuti pameran kerajinan di Cikapundung agar bisa memamerkan koleksi boneka buatannya. ”Pengunjung yang melihat lalu menyebut boneka saya sebagai boneka Jepang. Saya sendiri menyebutnya boneka model Jepang karena boneka ini kreasi sendiri dan tidak meniru,” ujarnya.

Saat mengikuti pameran, Ceppy disambangi pengurus Himpunan Masyarakat Pengrajin Indonesia Kota Bandung dan disarankan memproduksi massal boneka itu. Tak terpikir oleh Ceppy menjual boneka-boneka itu. Bagi Ceppy, boneka itu bagian dari hobi saja. Apalagi, pria yang berlatar pendidikan akuntansi ini masih bekerja di PT Telkom. Namun, benak Ceppy tergelitik memulai usaha.

Dia mencoba memproduksi lebih banyak boneka itu. Bahan berupa limbah peti kemas pabrik yang nasibnya akan berakhir sebagai kayu bakar diperoleh dari pabrik-pabrik di Cikarang, Karawang, dan Bekasi. ”Warna kayu limbah peti kemas itu bersih dengan serat kayu yang indah. Kalau diolah dengan baik, akan bagus hasilnya. Tanpa kreativitas, bahan baku mahal juga sia-sia,” ujarnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X