Kompas.com - 13/03/2013, 09:10 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Tak jarang saya temui beberapa profesional dalam usia produktif, namun terasa “terengah-engah”, galau dan terbeban dalam meniti karier dan menjalani pekerjaan. Sebaliknya, beberapa teman yang sudah dalam usia pensiun, malahan tampak belum kehabisan nafas dan masih merasa ”terlalu muda” untuk tidak berkarier lagi. Ada teman yang karena enerjinya begitu meluap-luap, malah diberi pekerjaan tambahan oleh manajemen dan tetap terlihat tidak kehabisan tenaga.

Kita tentu bertanya-tanya, apa yang menyebabkan mereka begitu berenerji tinggi, seperti "tidak ada matinya"? Apakah ini terjadi di organisasi dengan career planning yang baik dan teratur? Tidak juga! Ada tempat kerja di mana manajemennya tidak bijaksana, namun tetap kita bisa melihat ada individu yang begitu “all-out”, bekerja “beyond capacity”-nya.

Apakah ada motivasi tersembunyi yang menyebabkan individu seperti bertenaga ekstra? Bukankah kehidupan karier seperti ini yang perlu kita tumbuhkan? Kerja tidak menjadi beban, namun menjadi lahan bermain, bertumbuh yang membahagiakan.

Tak jarang kita melihat individu yang bekerja penuh perhitungan, yaitu menakar setiap pencapaian KPI, target dan apa yang ia peroleh dari perusahaan. Kerap kita melihat individu yang tak henti-hentinya komplain karena perusahaan tidak menyediakan tangga karier baginya atau mengemukakan berbagai alasan sekadar untuk memberi penjelasan mengapa kariernya tidak maju-maju. Individu yang terlihat tidak berusaha keras, kadang berdalih: “Don't work harder, but work smarter”.

Hal ini memang tidak salah, namun kita juga perlu ingat, usaha keras dan energi yang kita keluarkan juga akan menentukan mutu dan kuantitas kerja kita  juga. Hal yang justru sering membuat orang lupa makan saat bekerja adalah kecintaan individu pada pekerjaannya. Ia seolah-olah akan bekerja sama kerasnya, walaupun tidak dibayar. Andaikata ia seorang programmer, terlihat ia menikmati spesialisasinya, bangga dengan kreasinya, pandai menjual ide, sehingga penerapan hasil kerjanya lebih mudah dimanfaatkan oleh orang atau bagian lain.

Orang yang menikmati pekerjaannya, juga terlihat bisa menemukan prinsip kerjanya dan tidak sulit untuk menerapkan keahliannya, meskipun di situasi kerja yang benar-benar baru. Ini menunjukkan passion tetap perlu diperhitungkan individu dalam rangka membuat kariernya berkembang dan hidup. Lagi-lagi kita melihat betapa hidup-matinya karier tidak bisa diserahkan pada perusahaan, dan betul-betul harus kita yakini sebagai tanggung jawab pribadi.

The conditioning effect
Cara pikir, rasa, dan bertingkah laku otomatis akan membentuk endapan yang mendalam dalam diri kita. Ini sebabnya kita senantiasa dianjurkan untuk bertindak dan bersikap positif secara konsisten. Apapun yang kita lakukan secara konsisten, mau tidak mau melekat pada kita. Bila kita secara konsisten mengembangkan self talk negatif, misalnya terus-menerus mengatakan pada diri sendiri “saya tidak dihargai”, maka raut wajah, perasaan kita pun akan mengarah pada statement tersebut. 

Para ahli menyebut gejala ini sebagai "the conditioning effect of workplace apathy", yaitu membiasakan perasaan tertentu, misalnya merasa bosan, murung, moody, tidak antusias, bahkan ketidakberanian mengambil risiko dan tanggung jawab, sebagai bagian dari diri kita. Para ahli tersebut mengatakan, “Bila anda sudah membawa semangat seperti itu paling tidak 40 jam seminggu, apakah Anda bisa menjamin bahwa gaya hidup kita tidak terpengaruh dengan mindset tersebut?” Bukankah hal ini yang bisa menjadi cikal bakal  padamnya motivasi?

Kesalahan dalam persepsi kita tentang karier adalah memisahkan antara kehidupan karier dan kehidupan kita di luar jam kerja. Padahal, kita terus-menerus dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup kita lebih banyak dihabiskan di tempat kerja. Untuk itu, kita perlu memulai cara lain memandang karier, sehingga kita tidak perlu merasa mentok atau tertekan. Kita perlu mulai melihat pekerjaan dengan sisi lain yang lebih antusias, sehingga jadi sama menariknya dengan membicarakan pengalaman-pengalaman di luar pekerjaan.

Untuk meningkatkan antusiasime, kita dapat membiasakan untuk membenahi tugas kita, baik dengan membongkar, mempermudah, memoles, sehingga hasil perbaikan itu menjadi lebih menarik daripada sebelumnya. Tanpa susah-susah, karier kita bisa menjadi lebih hidup. Bila sudah begini, kita pun bisa bekerja tanpa cepat merasa lelah.

Ajukan pertanyaan berkualitas

Seberapa sering kita bertanya pada diri sendiri, “Apa yang kita inginkan di pekerjaan kita?” Kita terkadang surprise sendiri, saat menyadari bahwa kita bisa jadi tidak dapat mendefinisikan dengan jelas apa yang kita inginkan di pekerjaan kita. Orang yang clear dengan dirinya, dengan cepat bisa menyebutkan apa yang ia ingin dapatkan dari pekerjaan, misalnya kantor yang dekat dengan rumah tinggal, perusahaan yang memperhatikan keluarga, pekerjaan yang memberi kesempatan bereksperimen, boleh mengajukan pendapat, menyediakan tantangan baru dari waktu ke waktu, dan seterusnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X