Kompas.com - 13/03/2013, 10:12 WIB
EditorDini

T:
Skill saya di bidang akademis tergolong baik, dari SD-SMP saya selalu mengantongi peringkat 3 besar, tepat kelas 3 SMP semester ahir saya mendapat tawaran kerja part time menjadi penyiar radio dan tanggapan publik sangat positif dengan kehadiran saya di dunia broadcast. Karena fokus di dunia broadcast nilai akademis saya menurun dastis di bangku SLTA, mungkin karena waktu belajar berkurang akibat banyaknya undangan dari forum komunitas radio.

Banyak orang bilang saya sebenarnya sosok yang multitalenta, cerdas dan aktif. Tapi karena dibesarkan oleh keluarga yang kurang berpendidikan dan kurang ekonomi, orangtua saya tidak pernah perhatian dan memahami bakat yang saya punya, sehingga kemampuan yang saya miliki tidak dapat berkembang dengan baik, ditambah kurangnya rasa percaya diri karena postur tubuh saya yang tambun. Sering sekali saya menolak tawaran peluang karier dari rekan-rekan saya yang lebih berkompeten.

Sekarang saya sudah lulus SLTA dan menjadi karyawan UKM dengan pendapatan pas-pasan, dan karena jam kerja yang full-time dengan sangat menyesal saya meninggalkan dunia broadcast. Sebenarnya banyak sekali tawaran kerja dengan gaji besar tapi orangtua tidak pernah mau mendukung dan memberi izin karena alasan jauh dari rumah.

Saya ingin sekali bekerja dan berpenghasilan besar, karena nantinya ingin menabung untuk biaya melanjutkan studi. Saya yakin jika saya meneruskan di perguruan tinggi saya mempunyai media untuk dapat lebih mudah mengeksplorasi dan mengembangkan skill yang saya miliki.

Langkah-langkah apa yang harus saya lakukan untuk mengembangkan potensi yang saya miliki dan membuat orang-orang yang pernah menghina saya karena saya miskin dan gemuk sadar kalau saya bisa melakukan hal yang menurut mereka tidak dapat saya lakukan? Terimakasih. (Riya, 18)

J:
Mbak Riya yang luar biasa,
Menyimak penjelasan di atas, Anda adalah pribadi yang berprestasi. Di dalam diri Anda banyak potensi. Hanya saja, sayangnya Anda belum fokus pada tujuan Anda yang sebenarnya. Tawaran pekerjaan yang memberi Anda keuntungan secara finansial telah membuat Anda keluar dari tujuan Anda yang sebenarnya sejak menjadi penyiar radio sejak kelas 3 SMP, sehingga menurun drastis.

Mengingat hal itu sudah terjadi, ya sudahlah. Pasti ada pembelajaran di balik semua itu, bukan? Bahwa setiap diri kita harus fokus pada tujuan yang ingin kita capai dan tidak mudah tergiur oleh lainnya.

Jadi, apa yang perlu Anda lakukan?
Pertama, berhentilah menyalahkan kedua orang tua yang menurut Anda kurang berpendidikan dan kurang mampu secara ekonomi. Karena sebenarnya, semua ini bukanlah kesalahan mereka. Semua ini murni menjadi tanggung-jawab Anda untuk melangkah, berpikir positif, berterima kasih kepada beliau sekaligus mensyukuri apapun kondisi Anda saat ini.

Kalau saya boleh bercerita, ibu saya seorang lulusan SKKP (setara dengan SMP), almarhum ayah saya seorang petani dan lulusan SMA. Secara ekonomi, saya berasal dari keluarga sederhana. Jadi, kemiskinan dan kurangnya pendidikan kedua orang tua kita sama sekali bukan pencetus kegagalan diri kita. Melainkan sikap dan cara berpikir kita sendirilah yang menjadi penyebabnya. Prestasi sekolah bukan jaminan kesuksesan diri kita jika sikap dan cara berpikir kita yang cenderung menyalahkan orang lain.

Kedua, mengenai seringnya Anda menerima tawaran kerja yang bagus tetapi tidak mendapat restu dari orangtua karena masalah jarak yang jauh, sebaiknya Anda bicara dari hati ke hati dengan kedua orang tua Anda. Bertanyalah kepada beliau, apa yang membuat beliau begitu kuatir jika Anda jauh dari mereka? Dengarkanlah penjelasan beliau.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X