Kompas.com - 30/03/2013, 16:48 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Ketika sedang berbicara dengan bayi atau anak-anak yang masih sangat kecil, tanpa kita sadari kita sering berbicara dengan suara-suara yang kita anggap seperti suara bayi. Apakah suara-suara seperti itu pada awalnya kita lakukan dengan tujuan tertentu?

Ternyata, bukan hanya orangtua di Indonesia yang berbicara dengan suara bayi atau "baby talk" semacam itu. Di seluruh dunia Anda akan mendapati para orangtua berbicara dengan cara yang sama. Mereka akan cenderung menaikkan nada suara, berbicara lebih perlahan, cenderung memanjangkan huruf hidup (bayangkan ketika Anda mengucapkan kata "apa" pada bayi, Anda akan memanjangkan huruf "a" di depan), juga mengulang-ulang kalimat yang baru saja diucapkan.

Di luar dugaan, ada alasan mengapa kita semua melakukan hal ini (dan tak perlu merasa konyol jika Anda kedapatan berbicara dengan intonasi seperti ini). Para peneliti dari Brown University di Amerika mengungkapkan bahwa memanjangkan suara huruf hidup ketika berbicara dengan bayi atau batita ternyata dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bayi mengenali kata-kata. Perubahan intonasi yang berlebihan saat berinteraksi juga punya tujuan penting, yaitu untuk menangkap perhatian bayi.

"Boleh percaya boleh tidak, suara bayi membantu bayi memelajari bahasa. Penelitian menunjukkan bahwa bayi lebih suka mendengarkan suara bayi kita yang konyol sejak ia lahir. Mengapa harus begitu?" ujar Roberta Michnick Golinkoff, PhD, penulis buku Einstein Never Used Flashcards dan How Babies Talk: The Magic and Mystery of Language in the First Three Years of Life.

Golinkoff meminta Anda untuk mempertimbangkan bagaimana suara bayi tersebut. Seperti penelitian dari Brown University, menurut Golinkoff suara bayi cenderung bernada tinggi dan seperti bernyanyi. Kita juga cenderung menyeret-nyeret vokal atau huruf hidup tadi.

Dengan cara itu, suara Anda akan lebih menarik perhatiannya ketimbang jika Anda berbicara pada orang dewasa lain yang nadanya membosankan. Bayi bisa memilih hal-hal mengenai bahasa lebih cepat ketika mereka mendengarkan suara bayi ketimbang ketika mereka mendengarkan jenis suara yang biasa kita ucapkan pada pasangan, misalnya. 

Namun, Anda tidak perlu berusaha menekankan suara bayi daripada yang biasa Anda ucapkan secara natural pada bayi Anda. Dengan cara yang alami, Anda bisa berbagi perasaan yang positif dan bahagia dengan si kecil, dan ia pun menikmatinya. Dengan kata lain, tak usah merasa bersalah atau konyol jika Anda melakukannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.