Tricia Sumarijanto: Mengejar "Passion" sebagai Guru

Kompas.com - 06/05/2013, 10:55 WIB
EditorDini

Ia menunjukkan rekaman permainan angklung dari lagu ”Ibu” karya Melly Goeslaw, yang terasa lebih menyentuh kala dimainkan anak-anak down-syndrome.

”Waktu pulang tahun lalu, saya bertemu Ibu Aryanti dan Pak Budi dari Center of Hope yang melatih anak-anak itu bermain angklung. Ibu Aryanti adalah Ketua Ikatan Sindroma Down Indonesia,” ujar Tricia, ”Proyek ke depan adalah menghubungkan anak-anak down-syndrome di Indonesia dan di AS melalui angklung.

Rumah Indonesia
Pada awalnya adalah keprihatinan. Anak-anak Indonesia yang lahir dan tumbuh di AS cenderung tercerabut dari akar budayanya meski orangtua masih memegang akar keindonesiaannya.

Tentang identitas bikultural itu, Tricia menyebut ukuran Bicultural Identity Integration. BII mengukur kemampuan individu bikultural dalam menerima identitas-identitasnya. Dari BII bisa diketahui, seberapa besar kadar konflik identitas yang satu dengan identitas lain pada individu bikultural. Konflik itu akan memengaruhi kondisi psikologi yang bersangkutan.

Maka, bersama lima temannya, di antaranya psikolog Dr Livia Iskandar yang punya gagasan awal, Tricia ikut membentuk Rumah Indonesia, organisasi nonprofit untuk anak-anak Indonesia, 13 Agustus 2012.

Maya Soetoro-Ng, adik dari Presiden Obama, yang berteman baik dengan Livia, mendukung Rumah Indonesia dalam pengumpulan dana pertama melalui penjualan buku anak-anak karyanya, dengan endorsement khusus.

Merangkul
Rumah Indonesia, yang merangkul semua individu tanpa membedakan suku, agama, golongan dan apa pun. ”Misi kami, menjangkau masyarakat internasional yang berminat pada tradisi dan budaya Indonesia,” kata Tricia.

Rumah Indonesia menjadi salah satu organisasi pendukung American Design Batik Competition 2013 yang diselenggarakan KBRI, dan secara regular menggelar lokakarya batik, wayang, dan dongeng berbahasa Indonesia dari sejumlah daerah di Tanah Air kepada anak-anak.

”Secara perlahan, anak-anak mulai berani berbicara dalam bahasa Indonesia,” ujarnya. ”Ini kerja panjang, hasilnya tidak instan. Kami berharap anak-anak Indonesia di AS menjadi manusia global dengan nilai-nilai dasar Indonesia.”

Begitu antusiasnya dengan kegiatan budaya itu, seminggu di Jakarta ia gunakan untuk menemui teman-teman pendukung Rumah Indonesia dan mencari sponsor untuk program-programnya. ”Sambil mencari angklung lagi, he-he-he.”

(Maria Hartiningsih)

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X