Kompas.com - 16/05/2013, 12:44 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Cita Tenun Indonesia (CTI) kembali menampilkan koleksi busana tenun pada perhelatan Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) ke-10, tahun ini. Dalam pagelaran yang bertajuk "The Glorious Handwoven of Indonesia" itu CTI mengundang Sebastian Gunawan, Ari Seputra, Priyo Oktaviano, Denny Wirawan, dan Didi Budiardjo, yang selama ini telah bekerjasama bersama CTI untuk mengangkat tenun Indonesia.

"Kami mengucapkan terima kasih atas dukungannya selama tiga tahun bersama. Dukungan ini membantu meningkatkankan etnik budaya yang kita miliki, yang telah direpresentasikan oleh teman-teman desainer. Setiap motif tenun punya karakter yang berbeda pada setiap kain yang ditampilkan, di mana banyak cerita juga di dalamnya. Kain tenun sekarang sudah bisa dipadupadankan untuk pemakaian sehari-hari oleh para desainer hebat kita ini," tutur Okke Hatta Rajasa, Ketua Cita Tenun Indonesia, menjelang show yang berlangsung di Hotel Harris, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (15/5/2013) lalu.

Dalam kesempatan ini, masing-masing perancang menampilkan kain-kain tenun dari berbagai daerah. Sebagai pembuka show, hadir Sebastian Gunawan yang mempersembahkan warna-warna pastel yang menguatkan kesan feminin seorang wanita. Seba menampilkan delapan koleksi busana yang menggunakan material tenun polos dan tenun ikat dari para perajin tenun di Garut.

"Ciri khas karya Seba memang selalu sangat perempuan. Motif yang dipakai bunga, daun-daun, yang tidak biasa dilihat di kain tenun. Rancangan ini mengangkat karakter wanita modern yang masih memiliki sifat kewanitaan, dengan penggunaan bahan lace yang tidak biasa dipadupadankan dengan kain tenun," papar Bianca, asisten Seba, yang mewakili sang perancang yang kebetulan berhalangan hadir.

Ari Seputra, yang sukses dengan koleksi ready to wear dari label Major Minor di Harvey Nichols London, ternyata juga luwes mengolah tenun. Ia memanfaatkan tenun songket dari perajin yang terampil memilin serat dan benang di Desa Ungga, Lombok. Delapan koleksinya yang terinspirasi dari origami ia padupadankan dengan gaya punk yang diwakili oleh aksen kancing-kancing paku dan kulit.

"Busananya saya padukan dengan sabuk. Kalau motifnya sendiri motif nanas. Saya banyak mengambil warna (dasar) hitam dengan corak warna-warni. Nanti hanya menjadi dua warna supaya bisa diterima masyarakat Indonesia dan internasional," katanya.

Tenun ikat juga menarik minat Priyo Oktaviano, yang hadir dengan koleksi Black Paradise dan sedikit mengambil unsur Middle East. "Koleksi ini diperuntukkan untuk second line saya. Saya memakai kain tenun endek (ikat) yang geometris, dan koleksinya lebih kepada busana ready-to-wear," ujar Priyo, yang menampilkan enam busana wanita dan tiga busana pria.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk koleksinya yang bertema "Journey From The Highest" dan terinspirasi dari bangsa Tibet di pegunungan Himalaya, Denny Wirawan mengolah kain-kain tenun Sulawesi Tenggara. "Di sini saya mengimplementasikan busana saya melalui kain-kain dari Sulawesi Tenggara, yang mempunyai warna-warna mencolok dan terang," tuturnya.

Delapan koleksinya digarap dengan kain tenun Sobi Tolaki yang berasal dari Kabupaten Konawe, yang merupakan teknik menenun seperti songket. Selain itu juga menggunakan tenun Buton dari Buton Muna yang berciri khas geometris seperti garis-garis atau kotak. Berbagai jaket panjang atau pendek dalam potongan yang sederhana, juga beberapa rok pensil, rok lipit, serta atasan berleher cheongsam.

"Warna-warna yang terang saya padukan dengan warna netral. Dan karena mengambil tema dari Tibet, maka saya menggunakan aksesori bebatuan besar," sambungnya.

Parade mode ini ditutup oleh sembilan rancangan Didi Budiardjo. Dia terinspirasi kain lunggi hasil kreativitas tinggi para perajin di Dusun Semberang, Kabupaten Sambas. "Lunggi ini songket yang ada di Sambas. Motifnya rantai, lalu bunga ketunjung, yang sangat menarik menurut saya karena ada pengaruh Budha. Ini adalah kearifan lokal yang patut diangkat. Motif rantai itu sendiri punya arti bagi masyarakat Melayu untuk saling gotong royong," tandas Didi.

Pagelaran ini melibatkan para perancang dalam program pembinaan perajin di daerah, sehingga berhasil memberikan nilai lebih terhadap tenun yang memiliki makna budaya tinggi.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X