Kompas.com - 18/05/2013, 15:34 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Menonton film dengan teknologi 3D tentu lebih seru dibandingkan format film biasa. Namun, jika ini sering dilakukan, apakah dapat berdampak buruk bagi anak?

Teknologi 3D terbaru menggunakan satu proyektor yang berpindah antara gambar mata kiri dan kanan sebanyak 144 kali per detik, serta menggunakan kacamata yang lebih baik. Metode ini membuat mata kita bekerja hingga batas maksimal. "Bisa diibaratkan, otot mata kita sedang melakukan lari maraton," kata Dr Daryan Angle, ahli mata dari Kanada.

Faktanya, sebagian orang tidak dapat memroses efek 3D dengan baik, sehingga pada akhirnya mengalami keluhan seperti sakit kepala selesai menonton. Hal ini bisa terjadi pada orang dewasa dan juga anak-anak.

"Efeknya akan lebih berat bagi anak-anak, yang tidak tahu dengan pasti apa yang seharusnya mereka lihat," tambah Dr Angle. Ia merekomendasikan orangtua untuk terlebih dulu memeriksakan mata anaknya.

Pemeriksaan penglihatan 3D bisa membantu menemukan apakah anak memiliki masalah pada mata yang akan membuatnya tidak dapat menikmati film 3D.

"Menonton film 3D itu memerlukan kendali otot serta pengelihatan yang baik," jelas Dr Angle.

Sementara hingga usia 7 tahun, kemampuan melihat anak masih dalam perkembangan. Jadi, sebaiknya proses perkembangan ini didukung dengan tidak memberinya stimulasi yang berlebihan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X