Kompas.com - 27/05/2013, 15:23 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Ketika ada anggota keluarga yang meninggal, orangtua selalu dihadapkan pada tugas sulit untuk menjelaskan peristiwa ini pada anak-anaknya. Menurut psikolog Lesley Lacny, anak-anak belum memahami sepenuhnya konsep kematian hingga berusia 9 tahun.

"Kebanyakan anak menganggap kematian itu bukanlah hal yang permanen," katanya. Jadi, anak-anak akan lebih cepat memahami apa yang mereka lihat ketimbang apa yang tidak ada. Penting bagi orangtua untuk membantu mereka menghadapi kehilangan ini.

* Jelaskan konsep kematian dengan bahasa yang dipahami anak-anak. Orangtua bisa membantu anak memahami siklus kehidupan dengan mengambil contoh dari alam. Misalnya bunga yang layu, kemudian tumbuh lagi yang baru. "Jelaskan pada anak bahwa semua hal, baik itu tanaman, binatang, maupun manusia, akan mati dan itu adalah bagian dari alam dan begitulah kita semua diciptakan," kata Lesley.

Anak-anak sering penasaran akan detail dan mungkin akan berpikir, bagaimana jika nanti mereka meninggal. Pemikiran ini mungkin tidak akan langsung muncul, namun orangtua perlu mengantisipasinya kemudian.

* Berkatalah dengan jujur. "Anak-anak akan lebih menghargai kejujuran," kata Lesley. Berkata pada anak bahwa "Nenek sedang tidur" akan membuat anak bingung saat melihat neneknya tidak bangun-bangun dari tidurnya. Jadi, katakan dengan terus terang. Pada anak-anak yang lebih muda, orangtua perlu berkata berulang-ulang, bahwa anggota keluarga yang meninggal itu tidak akan bangun lagi.

* Biarkan mereka berduka. Seperti halnya orang dewasa, anak-anak akan mengalami berbagai emosi setelah kematian dari orang yang mereka sayangi. Katakan pada mereka bahwa emosi-emosi tersebut bukanlah hal yang terlarang dan bantu mereka memahami dan mendefinisikan apa saja emosi yang dirasakan. Pastikan mereka tidak merasa bersalah akan kematian tersebut, bahwa pikiran atau perasaan negatif yang selama ini mereka miliki terhadap anggota keluarga tersebut tidak menyebabkan kematiannya.

Yang juga penting, tanamkan dalam pikiran anak bahwa anggota yang meninggal itu sekarang tidak lagi merasa sakit. Bahwa kematian bukanlah hukuman, sehingga selanjutnya anak-anak dapat melalui aktivitas menyenangkan dalam kesehariannya. Mereka tidak perlu berpikir seolah-olah mereka tidak boleh lagi tertawa dan harus selalu terlihat bersedih.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

* Libatkan dalam pemakaman
Orangtua mungkin berpikir anak akan takut ketika harus menghadiri pemakaman. Namun, ritual ini bisa menjadi salah satu cara bagi anak untuk memulihkan rasa sedihnya. Beri tahu mereka seperti apa pemakaman yang akan dilakukan, di mana, dan siapa saja yang akan ikut. Anak-anak yang lebih besar bisa berpartisipasi dengan memilih foto yang akan dipasang, atau membawanya saat prosesi penguburan. Anak-anak yang masih kecil sebaiknya tidak melihat jenazah, namun anak-anak yang lebih besar bisa diperbolehkan untuk mendekat setelah sebelumnya diberi pengertian seperti apa jenazah itu akan terlihat. Sebaiknya juga ada orang yang ikut menemani, kalau-kalau anak tiba-tiba tidak mau ikut pemakaman dan memilih tinggal di rumah.

 



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X