Kompas.com - 03/06/2013, 13:05 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Aktris dan presenter Yulia Rachman tampak beda dengan penampilan barunya saat memandu acara. Rambut indahnya yang membuat dia terkenal sudah tak tampak lagi karena kini tertutup jilbab. Katanya, inilah dunia baru yang dengan yakin dia jalani.

"Saya termasuk perempuan yang cengeng dalam menghadapi masalah, tapi ini dunia baru yang mudah-mudahan membuat saya lebih mantap jalani hari-hari saya," ujarnya, saat ditemui di gelaran Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF), Jumat (31/5/2013) lalu.

Perempuan berusia 35 tahun yang juga single parent untuk dua orang anak itu mengaku baru sebulan mengenakan jilbab. Dalam transformasi ini banyak hal dan rintangan yang dia jalani.

"Tantangan terbesar itu dari diri sendiri, bukan takut kehilangan job atau lainnya," ungkap dia.

Yulia mengatakan kalau niat berjilbab sebenarnya sudah ada sejak ia umroh pertama kali tahun 2006. Namun waktu itu belum terealisasi, karena belum peka, katanya. Seiring perjalanan waktu dan ragam masalah yang menghampirinya, Yulia tersudut dan kerap menangis. Hingga suatu kali ia mendengar talkshow yang seolah memberi tamparan bahwa tak ada gunanya menangis untuk dunia.

"Lalu, ada satu lagi acara talkshow yang mengungkapkan kalau berjilbab itu buat wanita muslim bukan dianjurkan, tapi diwajibkan, dan ini adalah pilihan saya," tuturnya.

Bagi seorang publik figur, memutuskan mengenakan jilbab tidak berarti gampang. Banyak suara sumbang mengiringi keputusannya, dan ia sendiri ternyata belum punya banyak persiapan, termasuk soal busana yang tertutup.

"Saya tetap teguh, yang terlintas di pikiran,  siapa yang jaga diri saya dan anak-anak, selain diri saya sendiri, saya lalu lebih ikhlas dan berserah," ungkapnya.

Karena berjilbab tidak direncanakan, Yulia sempat kebingungan dengan busana yang harus ia kenakan. Ia lalu menghubungi sejumlah kerabat dan teman yang punya busana muslim yang mungkin sudah tak dipakai lagi. Kata dia, kenapa harus malu kalau tak punya uang untuk membeli busana yang baru.

"Sebagai single parent saya juga harus cari nafkah untuk anak saya. Kalau beli busana muslim mahal, saya pilih beli pampers (untuk anak)," ujarnya lugas.

Tetapi sebenarnya bukan busana yang menjadi tolok ukur kedewasaannya. Yulia merasa masih banyak yang harus ia pelajari. Katanya ini dunia baru, dan mau tidak mau ia harus siap menjalaninya.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X