La Femme Patisserie: Memasak dengan Cinta

Kompas.com - 17/06/2013, 13:14 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Canda dan tawa para anggota La Femme Patisserie (LFP) mewarnai acara memasak daging domba pada Sabtu (1/6/2013) lalu. Meski tangan sibuk meracik bumbu, celoteh riang lebih dari 20 perempuan tak pernah surut memenuhi ruang dapur Ranch Market Pondok Indah, Jakarta.

Seusai menyaksikan Chef Candra beraksi membuat bola daging domba saus yoghurt, tiba giliran para perempuan ini praktik langsung membuat roti goreng isi daging domba. Mereka memasak dengan mengikuti instruksi dari chef.

”Bawang bombay di-chop, diiris-iris. Daging domba diiris dadu,” kata Chef Candra berusaha mengatasi bisingnya dapur pada siang itu.

Tidak lama aroma harum daging domba yang mulai matang menyapa indera penciuman. Sebagian peserta telah mematikan kompornya, sementara Sindya (20) masih mengaduk-aduk terus daging di dalam wajannya. Akibat terlalu banyak menuangkan air, masakannya tidak kunjung matang. ”Sayang, ini kok kenapa banjir begini?” kata seorang peserta yang disambut senyum Sindya.

”Ini pengalaman kedua saya ikut kegiatan komunitas ini, yang pertama memasak kwetiaw di Ranch Market Central Park,” kata Sindya, yang kuliah di jurusan perhotelan.

Belajar, tambah pengalaman
Sindya datang bersama ibunya, Kartika (43), yang sudah bergabung sejak awal kemunculan LFP karena mengenal sang pendiri, Dhani R Satyadharma (46). Kartika menyukai komunitas ini karena bisa menambah pengalamannya memasak dalam suasana yang tidak formal. Sehari-hari ia menerima pesanan kue.

Begitu pula Fani Sadikin (43) dan Turi (43). Sebelum bergabung, Fani sudah memulai usaha rumahan membuat kue dan puding. Semula makanan yang dibuatnya hanya sebatas kue-kue warungan. Pemasarannya sebatas teman-teman arisan atau teman senam selain dititipkan ke warung-warung. Sejak bergabung dengan LFP, pengetahuan Fani bertambah. Sejak bergabung setahun lalu, ia rajin mengikuti kelas memasak yang digelar dua kali sebulan.

Fani juga memanfaatkan LFP untuk tukar pengalaman dan menimba pengetahuan dengan sesama Lafemmers, sebutan bagi anggota LFP. Hasilnya, ia kini memiliki banyak referensi tentang kue. Bukan itu saja, Fani juga memperbaiki kemasan kuenya agar tampak lebih menarik.

Demikian pula Turi. Ia akan mengulang praktik kelas memasaknya di rumah. Jika hasilnya dinilai bagus dan enak, akan dimasukkan ke dalam daftar menu yang ditawarkan kepada pelanggannya.

Jika semula pemasaran hanya dari warung ke warung, kini Fani membuka toko online sehingga pemasarannya semakin luas. Fani mengaku, penghasilannya meningkat tajam dari hasil usaha kue ini. ”Bisa menopang hidup keluarga dan menabung,” ujarnya sumringah.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X