Keripik Tempe Rasa Menggelitik - Kompas.com

Keripik Tempe Rasa Menggelitik

Kompas.com - 19/06/2013, 21:51 WIB

KOMPAS.com - Siapa bilang tempe hanya makanan rakyat kecil? Di tangan keluarga Muhammad Noer, tempe menjadi buah tangan khas Kota Malang bernilai jual tinggi. Kripik Tempe Aneka Rasa menyodorkan rasa daun jeruk, keju, barbeku, atau piza.

Produk keripik tempe aneka rasa buatan keluarga Noer sudah menyebar seantero negeri, bahkan sudah merambah mancanegara, seperti Belanda, Singapura, hingga Amerika Serikat.

Saat ini dalam sehari, toko oleh-oleh Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer yang terletak di Jalan Ciliwung Gang II Nomor 2, Kota Malang, menghabiskan 1 kuintal kedelai untuk membuat tempe. Tempe dibuat sendiri untuk menjamin kualitas rasa. Dari tempe tersebut baru diolah menjadi keripik tempe aneka rasa. Omzet normal dalam sehari mencapai Rp 10 juta. Nilai tersebut akan membengkak hingga tiga kali lipat saat Lebaran.

Usaha keluarga Muhammad Noer dimulai tahun 1993. Saat itu Bu Noer (Siti Djuariyah) dan Anik Suryani (adik Bu Noer) sepakat membuat dan menjual keripik tempe yang memang merupakan makanan khas Kota Malang. Saat itu Siti Djuariyah adalah ibu rumah tangga, sedangkan Anik adalah sarjana sejarah Universitas Negeri Malang yang belum bekerja.

Awal usaha hanya dikerjakan oleh tiga orang, yaitu Muhammad Noer, Siti, dan Anik. Anik meracik bumbu, Siti mengiris tempe, dan Muhammad Noer mengantar keripik ke warung yang dititipi -saat ia berangkat kerja sebagai PNS di lembaga pemasyarakatan di Kota Malang.

Awalnya keluarga Noer bermodalkan Rp 10.000 per hari untuk membeli satu bongkah tempe berukuran 50 cm x 25 cm untuk dijadikan keripik. Saat itu, satu bungkus keripik tempe berisi lima iris keripik dijual dengan harga Rp 500. Saat ini, keripik tempe Bu Noer dikemas per 150 gram dengan harga Rp 5.500 untuk rasa asli dan Rp 6.900 untuk aneka rasa.

Inovasi
Meski perlahan, karena banyak saingan, usaha rumahan tersebut terus berjalan. Tidak puas hanya sekadar ”berjalan pelan”, keluarga Noer mencoba berinovasi. Pada tahun 2000, mereka membuat keripik tempe aneka rasa, yaitu rasa keju, barbeku, piza, ayam bawang, spageti, dan udang. Tempe pun mulai diproduksi sendiri.

”Awalnya saya ditantang oleh keluarga untuk membuat keripik tempe yang beda dengan lainnya. Saya yang dasarnya senang memasak merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa saya bisa. Lalu saya buat keripik tempe aneka rasa,” tutur Anik.

Anik adalah orang di balik resep dan produk Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer. Keripik tempe rasa keju, barbeku, piza, ayam bawang, spageti, udang, dan berbagai rasa pun akhirnya lahir dari tangan Anik. Keripik tempe aneka rasa tersebut disukai pasar.

Keinginan membuat produk berbeda, diakui Anik, dipicu oleh lokasi usaha mereka yang masuk ke dalam gang -sejauh 500 meter dari jalan raya- sehingga butuh produk menonjol yang memang dibutuhkan dan dicari pembeli di mana pun lokasinya. Mereka harus bersaing dengan pusat jajanan keripik tempe Sanan Kota Malang yang memang sudah terkenal sebelumnya.

Merasa inovasi awal berhasil, pada tahun 2002 Anik kembali berinovasi membuat keripik tempe rasa aneka daun, yaitu rasa daun ketumbar, daun kucai, daun prei, daun seledri, dan kemangi. Keripik tempe aneka rasa daun pun laris manis.

Tidak berhenti hanya membuat keripik tempe, keluarga Noer pun terus berinovasi membuat aneka olahan tempe dan bahan lokal lain. Tahun 2002, keluarga Noer juga memproduksi brownies tempe. Setahun kemudian, mereka membuat cake dan roti bekatul. Semua produknya disukai pembeli.

”Saya termotivasi membuat aneka olahan dari tempe dan bahan lokal seperti bekatul karena tidak ingin tempe hanya dianggap makanan kelas bawah. Tempe dan bekatul adalah produk lokal dengan gizi tinggi yang juga bisa menjadi makanan menengah ke atas,” ungkap Anik.

Ditiru
Melihat keripik tempe aneka rasa Bu Noer sukses, usaha keripik tempe lain di Malang pun mulai mengikuti membuat produk aneka rasa. Produk keripik tempe aneka rasa mulai ditiru pengusaha lain pada tahun 2005.

”Tidak masalah ditiru orang lain karena saya tidak jual nama. Saya menjual rasa sehingga saya berani bersaing dengan lainnya. Yang penting saya terus berinovasi memenuhi keinginan pembeli. Dengan ditiru, artinya produk saya disukai pasar,” ujar Anik.

Usaha keluarga Noer terus berkembang. Selain Bu Noer dan Anik, adik bungsu tiga bersaudara ini, yaitu Lilik Ismiyati, juga mulai membuat keripik aneka buah. Keripik dibuat dan dikemas sendiri oleh Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer.

Kini, toko Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer benar-benar sudah menjadi pusat oleh-oleh khas Kota Malang. Dari awalnya hanya dikerjakan oleh tiga orang, Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer kini mempekerjakan 30 karyawan. Karyawannya berasal dari sejumlah daerah, yang ditampung di tiga rumah produksi keripik Bu Noer. Setiap karyawan digaji sesuai Upah Minimal Kota Malang dan diberi tempat tinggal tanpa harus kos.

”Setiap karyawan harus diperhatikan dengan baik. Jika tidak dijamin dengan baik, mereka bisa-bisa lari. Kami akhirnya akan kembali mencari orang dan itu cukup mengganggu proses produksi sebab harus mengajari dari awal,” ujar Anik.

Saat Lebaran, keluarga Noer menambah tiga kali lipat karyawannya. Ini karena kebutuhan produksi saat lebaran juga tiga kali lipat kebutuhan harian.

Dari usaha rumahan kecil, Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer kini menjadi industri kecil, tempat bergantung banyak orang. Kunci keberhasilannya, menurut Anik, adalah berinovasi dan bekerja keras. ”Saya masih terus ingin berinovasi sesuai harapan pelanggan. Inovasi dibutuhkan agar usaha ini tidak berhenti,” ujarnya.

Dianggap sukses membangun usaha, keluarga Noer dipercaya pemerintah daerah untuk memberikan pelatihan di sejumlah daerah di Jawa Timur, mulai dari pelatihan kewirausahaan hingga mencari dan mengembangkan potensi daerah.

(Dahlia Irawati)


EditorDini

Terkini Lainnya

Close Ads X