Bahaya Kabut Asap Paling Rentan pada Anak

Kompas.com - 25/06/2013, 14:28 WIB
Warga tetap melakukan aktivitas meskipun kabut asap terus menyelimuti kota Pekanbaru, seperti yang tampak di jalan Parit Indah, Jumat (7/8). Kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi di beberapa kota dan kabupaten di provinsi Riau, sehingga menyebabkan ratusan ribu siswa terpaksa diliburkan dari sekolahnya. Tribun Pekanbaru/Melvinas PrianandaWarga tetap melakukan aktivitas meskipun kabut asap terus menyelimuti kota Pekanbaru, seperti yang tampak di jalan Parit Indah, Jumat (7/8). Kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi di beberapa kota dan kabupaten di provinsi Riau, sehingga menyebabkan ratusan ribu siswa terpaksa diliburkan dari sekolahnya.
|
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Kabut asap yang mengandung berbagai polutan jika memasuki saluran napas bisa menyebabkan berbagai penyakit. Anak-anak menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampak kabut asap tersebut.

Berat ringannya efek kabut asap terhadap kesehatan, menurut dr.Agus Dwisusanto, spesialis paru, tergantung pada tiga faktor, yakni agen hasil pembakaran, individu, serta faktor lingkungan yang meliputi cuaca dan arah angin.

"Pada individu yang sudah punya penyakit paru sebelumnya, misalnya asma atau penyakit paru obstruktif kronik, kabut asap bisa membuat penyakitnya sering kambuh," kata dokter dari Divisi Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini.

Ia menambahkan, selain orang yang sudah punya riwayat gangguan pernapasan, orang yang daya tahan tubuhnya rendah seperti orang lanjut usia dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terdampak kabut asap.

Menurut dr.Nastiti Kaswandani, spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, anak-anak sangat rentan karena saluran napas mereka belum sempurna.

"Pipa pernapasan anak-anak diameternya lebih kecil dibanding orang dewasa. Jika ada rangsangan dari luar, misalnya asap, akan terjadi pembengkakan di pipa itu. Akibatnya saluran mukosa membengkak dan pipanya mengecil," katanya ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (25/6/13).

Pembengkakan pada saluran napas anak tersebut akan memudahkan terjadinya sumbatan. "Napas anak menjadi sesak, kalau ada lendir akan tambah sesak lagi," imbuhnya.

Infeksi pada saluran napas akibat kuman yang terbawa dalam kabut asap juga bisa meningkatkan risiko pneumonia (radang paru).

"Penelitian menunjukkan, anak-anak yang sakit pneumonia dan orangtuanya menggunakan kayu bakar atau bahan padat lainnya yang dibakar, risiko perburukan penyakitnya lebih besar. Anak-anak yang terkena polutan asap juga memiliki risiko kematian lebih besar," paparnya.

Kondisi udara yang buruk akibat kabut asap jika terjadi berminggu-minggu, menurut Agus, bisa menurunkan fungsi paru. "Jika komponen-komponen dalam asap itu terakumulasi di paru bisa mengurangi fungsi paru," katanya.

Selain batuk kronis, terlalu lama terpajan polutan asap akan menyebabkan penyempitan saluran napas, bahkan memicu timbulnya asma meski sebelumnya tidak ada riwayat penyakit asma.

Baca tentang
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X