Membentuk Karakter Anak Lewat Marching Band

Kompas.com - 27/06/2013, 16:32 WIB
Salah satu grup marching band yang ikut memeriahkan gelaran Kirab Budaya Rakyat Jakarta, Minggu (28/10/2012), di depan gedung Balai Kota Jakarta. Kegiatan ini digelar sekaligus untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda dan rencananya akan rutin digelar di setiap tahunnya. KOMPAS.com/Indra AkuntonoSalah satu grup marching band yang ikut memeriahkan gelaran Kirab Budaya Rakyat Jakarta, Minggu (28/10/2012), di depan gedung Balai Kota Jakarta. Kegiatan ini digelar sekaligus untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda dan rencananya akan rutin digelar di setiap tahunnya.
|
EditorWawa
KOMPAS.com - Latihan bersama ribuan jam, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bukan satu-satunya tantangan anggota tim marching band. Dengan jumlah tim puluhan bahkan ratusan, grup marching band juga perlu saling beradaptasi, menerima dan memahami perbedaan, untuk kemudian bergerak bersama dalam keharmonisan irama, menampilkan satu pertunjukkan megah berdurasi maksimal 12 menit saja.

Proses latihan grup marching band memberikan banyak pembelajaran pada anggotanya. Jika sejak dini anak-anak bergabung di grup marching band, sejumlah karakter positif bisa terbangun darinya.

Lisa Ayodhia, Ketua Yayasan Grand Prix Marching Band yang juga pemain marching band di era 70-an, mengatakan banyak manfaat positif yang bisa didapatkan anak ketika berlatih dan bermain musik di marching band.

Tak hanya memainkan alat musik, marching band juga memberikan kesempatan pada anak untuk berkreativitas sesuai minat dan kemampuannya. Pasalnya, marching band membutuhkan banyak talenta bukan hanya untuk memainkan alat musik yang beragam, tapi juga talenta yang punya banyak peran dalam satu pertunjukkan.

" Marching band mengajarkan kedisiplinan, kebersamaan, kesabaran. Yang ikut marching band punya kebanggaan. Otaknya juga pintar karena merangsang koordinasi otak saat latihan," ungkapnya saat peluncuran novel berjudul 12 Menit, di Torino Cafe Jakarta, Rabu (26/6/2013).

Bergabung dalam grup marching band, lanjut Lisa, juga bisa mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.

"Anak bisa belajar menghormati perbedaan dan menjaga kebersamaan," tuturnya.

Dengan banyaknya anggota tim marching band, puluhan hingga ratusan per tim, anak-anak juga bisa belajar mengelola konflik. Lisa mengatakan friksi bisa dengan mudahnya muncul dalam tim beranggotakan banyak pribadi dan karakter ini. Namun tantangannya bagaimana menghadapi friksi ini agar tak menjadi pemecah, tapi justru pemersatu demi mewujudkan satu impian sama, yakni menampilkan pertunjukkan yang maksimal dan menjadi juara jika mengikuti perlombaan.

Lisa memaparkan marching band juga mendidik anak  cara bersosialisasi dan berorganisasi. Satu kelompok orang dalam tim marching band yang memiliki impian juga tujuan sama, memberikan kesempatan pada anak untuk bisa berbaur dan beradaptasi.

Namun utamanya adalah anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki disiplin tinggi. Telat satu menit saja datang latihan ini berdampak pada kekompakan grup. Kelebihan satu menit saja saat tampil dengan durasi maksimal 12 menit, grup akan terkena pinalti. Marching band mengajarkan kedisiplinan. Dan perlahan kedisiplinan ini menjadi karakter yang tertanam dalam diri anak dengan sendirinya.

"Karakter disiplin dan lainnya bisa dibangun dengan berlatih marching band, jadi siapa pun bisa ikut," jelasnya.

Ia menambahkan, marching band bisa dikenalkan kepada anak sejak masa taman kanak-kanak hingga berusia 16-17 bahkan lebih.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X