Kompas.com - 02/07/2013, 08:05 WIB
Tiga desainer hadirkan keindahan busana muslim dengan gaya Indonesia dan Eropa KOMPAS.COM/CHRISTINA ANDHIKA SETYANTITiga desainer hadirkan keindahan busana muslim dengan gaya Indonesia dan Eropa
|
EditorFelicitas Harmandini
KOMPAS.com - Panggung busana muslim kini semakin diramaikan dengan busana-busana tertutup yang terbuat dari kain-kain tradisional. Hal ini membuktikan bahwa kain tradisional kini lebih fleksibel diolah menjadi beragam busana yang memukau.

Perhelatan Jakarta Islamic Fashion Week 2013 (JIFW) pada Kamis (27/6/2013) lalu, menghadirkan dua fashion show dari tiga desainer yaitu Sonny Muchlison, Nuniek Mawardi, dan Samuel Wattimena. Dua inspirasi busana muslim dari kain tradisional dihadirkan oleh Sonny dan Samuel. Dalam fashion show-nya kali ini, Sonny memilih tema It's Good to Remember.

"Semua busana yang saya hadirkan ini terinspirasi pada keeleganan tokoh muslimah Indonesia di masa lalu dengan gaya berkerudung mereka. Saya juga ingin mengenang zaman-zaman Ibu Fatmawati Soekarno yang menggunakan kerudung putih," jelas ,saat konferensi pers di Jakarta Convention Center, Senayan, Kamis (27/6/2013) lalu.

Sonny mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh muslimah seperti Ibu Fatmawati Soekarno, Zakiyah Daradjat, atau Yenny Wahid di era sekarang, memberi inspirasi gaya berkerudung yang bersahaja dan ringan namun tetap cantik.

"Sekarang ini banyak hijabers yang memilih menggunakan kerudung yang rumit dan banyak lilitan, tapi justru ini menghalanginya untuk beribadah," tambahnya.

Sonny menghadirkan 24 koleksi busana kebaya kutu baru, kebaya Kartini, dan baju kurung yang dimodifikasi dalam bentuk blazer dengan jahitan yang clean dan neat. Sebagian koleksi dipadukan dengan rok dan celana panjang, selebihnya dipadukan dengan sarung tradisional dari seluruh wilayah Indonesia. Ia mengaku bahwa kebanyakan kain yang digunakannya adalah songket Aceh.

Sedangkan untuk busana prianya, Sonny terinspirasi dari busana muslim yang terdiri atas kemeja, semi jaket, dan jaket dengan model kerah Nehru. Semua ini terlihat selaras saat dipadukan bersama celana panjang dan sarung dari kain tapis.

Jika Sonny menghadirkan busana laki-laki dan perempuan, maka Samuel Wattimena hanya menghadirkan koleksi busana untuk pria saja. Ia menunjukkan totalitasnya dalam sebuah karya yang bertema Faith, Hope, and Love. Koleksi yang berjumlah 40 outfit ini menggambarkan sisi filosofis Indonesia.

Samuel memberi kesan busana yang lebih eklektik (garis vertikal percampuran motif) sehingga terkesan lebih maskulin. Busana yang dihadirkannya lebih didominasi gaya androgini seperti semi jaket, coat, kemeja, dan kaus. Beberapa model busananya diberi aplikasi potongan kain tradisional dan juga sulaman.

Tak cuma itu, pria yang disapa Sammy ini juga membuat baju dengan kain-kain songket, tenun, dan juga batik.  "Saya tidak menggunakan banyak aplikasi batu atau detail lainnya. Karena saya ingin menonjolkan dan memberi ruang pada kain tradisional agar terlihat lebih menonjol dibanding detail lainnya. Lagipula, kain-kain ini sudah indah kok," puji Sammy.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X