Ingin Lebih Bahagia? Kurangi Makanan Manis

Kompas.com - 09/07/2013, 12:11 WIB
Kalau bisa menahan keinginan makan manis, Anda bisa lebih bahagia. SHUTTERSTOCKKalau bisa menahan keinginan makan manis, Anda bisa lebih bahagia.
|
EditorWawa

KOMPAS.comMakanan manis seperti kue dan lainnya selalu jitu menggoda selera. Keinginan untuk menyantapnya pun menjadi lebih besar kala lapar. Sebelum menikmati makanan manis, ada baiknya pertimbangkan hasil studi terbaru ini. Studi menunjukkan, jika Anda mampu melawan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, Anda akan lebih bahagia.

Para peneliti di University of Chicago melakukan survei terhadap 414 responden dewasa. Mereka menemukan bahwa tingkat pengendalian diri dan kepuasan hidup terkait erat dengan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis. Penelitian ini dapat ditemukan di Journal of Personality.

Kathleen Vohs, profesor pemasaran di University of Minnesota, mengatakan, orang yang lebih mampu menahan diri pada dasarnya mempunyai pengaturan diri lebih kuat sehingga ia lebih bahagia.

”Hal ini karena mereka belajar bagaimana untuk menghindari keinginan yang berujung pada masalah dan konflik,” tuturnya.

Dengan menahan diri untuk tidak menyantap makanan manis yang sangat diinginkannya, seseorang akan lebih mudah membuat pilihan tepat. Adapun mereka yang tak tahan godaan dan terlena menikmati makanan manis akan terganggu dengan pikiran dan perasaan bersalah, yang berujung pada penyesalan.

Sejalan dengan survei ini, para peneliti mengaitkan dengan sebuah data dari studi lain yang terkait, yakni studi terhadap 205 orang dewasa yang diberi ponsel pintar dan diminta untuk melaporkan emosi mereka pada interval waktu yang acak selama seminggu. Mereka diminta untuk mengungkapkan keinginan mereka sekaligus mengutarakan seberapa keras mereka mencoba melawan keinginan tersebut dan seperti apa hasilnya.

Temuan ini memperlihatkan, mereka yang berhasil menahan diri dari dorongan untuk memenuhi keinginan impulsif umumnya lebih ceria dalam waktu lebih lama. Survei ini sekaligus juga mendefenisikan pengendalian diri sebagai kemampuan untuk mengesampingkan atau mengubah respons batin seseorang. Ketua tim peneliti, Wilhelm Hofmann, menyebutkan kemampuan ini sebagai aset manusia yang paling berharga.

Sementara itu, Dr Nick Nacarri, psikolog, mengomentari hasil studi ini dan ia punya pendapat berbeda. Menurut dia, jika seseorang memenuhi keinginannya dengan segera, ini akan menimbulkan kepuasan dalam diri. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan jika ingin segera memenuhi apa yang diinginkan.

”Anda tidak harus menyangkal diri sendiri sepenuhnya. Tapi Anda juga perlu lebih selektif, kapan, bagaimana, dan dalam situasi apa ketika Anda memenuhi keinginan,” ungkapnya.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Dailymail
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X