Karyawan Harus Aktif Membahagiakan Diri

Kompas.com - 22/07/2013, 07:42 WIB
Karyawan harus aktif membahagiakan diri. WORKPLACEPSYCHOLOGY.NETKaryawan harus aktif membahagiakan diri.
EditorFelicitas Harmandini
KOMPAS.com - Bahagia di tempat kerja jelas hal penting. Kita bisa bayangkan betapa tidak cuma produktivitas dan kinerja yang terganggu bila individu tidak happy dalam bekerja, lingkungan kerja pun pasti jadi terasa berat dan melelahkan.

Tak heran banyak organisasi membuat survey utuk memahami seberapa happy dan puasnya karyawan, bahkan mengukur perkembangan keakraban, keterikatan emosi, dan kebahagiaan karyawan. Hasil survey akan menjadi dasar untuk mendalami aspek yang menjadi penyebab tidak bahagianya karyawan, dan faktor apa yang bisa membuat karyawan lebih bahagia.

Bila mayoritas karyawan menyampaikan bahwa uang bukan faktor terpenting yang membawa kebahagiaan, maka manajemen akan memutar otak dan berpaling pada sikap atasan. Atasanlah yang perlu membuat bawahan lebih bahagia. Bila keluhan berkisar seputar "work life balance", maka jam kerja yang akan ditilik, disorot, dibenahi, bahkan diperpendek. Padahal, di sisi lain, si pekerja keras, membutuhkan jam kerja panjang untuk berprestasi "lebih" dan menjadi the best.

Belum lagi kita bicarakan ketidakjelasan kebijakan, main politik, perubahan yang tidak masuk akal, dan segala faktor yang dengan otomatis akan membuat hati bingung, gundah, dan tidak aman.

Begitu kompleksnya faktor yang menciptakan rasa bahagia ini, sehingga kadang teori manapun yang digunakan sulit untuk menjawab apa yang bisa mendongkrak semangat dan prestasi karyawan lagi. Kita pun segera bisa melihat kebenaran pendapat ahli yang mengatakan bahwa mempengaruhi motivasi karyawan dengan faktor eksternal hanyalah mitos, karena tidak bisa membuat rasa bahagia karyawan bertahan lama.  

Kadang kita lupa dan memang tidak terpikir bahwa kebahagiaan tidak selalu merupakan konsekuensi dari tindakan tertentu. Bukankah banyak pesan bijak yang menganjurkan tiap individu untuk mengupayakan kebahagiaan dirinya sendiri?

Misalnya saja, dalam situasi pernikahan yang diharapkan setidaknya survive paling tidak setengah abad. Kita sering mendengar pesan perkawinan yang mengatakan bahwa kitalah yang harus menjadi subyek perkawinan, dan bukan obyek atau bahkan korban perkawinan tersebut. Kita yang harus aktif membahagiakan diri. Ini berarti, bahagia bukanlah status, tetapi sifatnya aktif dan berbentuk tindakan, alias “kata kerja”.

Jadi dalam konteks bekerja, individu tidak bisa meletakkan kebahagiannya semata pada faktor eksternal di luar dirinya, namun kita sebagai pekerjalah yang harus berbahagia sendiri. Manajemen pun tidak bisa selalu berkutat pada hal-hal eksternal di luar individu, tetapi justru memikirkan bagaimana individu berbahagia dengan tugasnya, timnya, perusahaannya, dan secara aktif pula mengupayakan kebahagiaannya.

Jangan sepelekan faktor rasa
Masih banyak orang berpendapat bahwa profesional sejati perlu lebih mengedepankan “thinking” atau kekuatan berpikir, daripada kekuatan rasa atau emosi. Menampilkan emosi, saat mengambil keputusan atau adu argumen dalam diskusi, bahkan dianggap kurang profesional. Jadi, apakah kira-kira kita seperti Mr Spock dalam Star Trek yang mengatakan: “Emotions are alien to me. I’m a scientist”? Padahal, jelas kita tidak bisa meninggalkan emosi kita di rumah atau di tempat parkir.

Di tempat kerja, kita pasti akan resah bila menghadapi muka-muka tembok tanpa ekspresi. Maukah kita bekerja hanya karena diperbudak gaji, tanpa keterlibatan emosi dan  motivasi, yang kesemuanya adalah aspek emosional? Bila kita mengupayakan spirit dan motivasi karyawan yang bersumber dari happiness-nya, jelas kita perlu mendalami keadaan emosi manusia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X