Karyawan Harus Aktif Membahagiakan Diri

Kompas.com - 22/07/2013, 07:42 WIB
Karyawan harus aktif membahagiakan diri. WORKPLACEPSYCHOLOGY.NETKaryawan harus aktif membahagiakan diri.
EditorFelicitas Harmandini

Sistem manusia tidak mungkin bekerja tanpa emosi. Bagaimana mungkin orang mengambil keputusan tanpa berempati? Ada cerita mengenai seorang karyawan hotel yang mau bersusah payah mencarikan aquarium kecil untuk ikan mas yang dibawa tamu ciliknya. Ia sampai meminjam ke hotel tetangga. Ketika ditanya mengapa ia menjalankan tindakan di luar standar operasi, ia mengatakan, ”Bisakah Anda membayangkan anak yang semalaman merasa khawatir dan orang tua yang gelisah menginap di hotel kita?” Saya ingin bekerja untuk pelanggan yang happy, supaya saya juga happy”.

Hubungan tim pun tidak mungkin kalau tidak mengandung unsur pertemanan yang melibatkan emosi. Seorang karyawan Southwest Airlines berkomentar, “Tempat ini begitu seru. Saya tidak bisa resign, karena teman-teman kerja di sini terlalu asik”.

Perusahaan yang berhasil menjaga motivasi karyawannya, sadar betul akan hal ini, bahkan memberi ruang agar karyawan menjadikan perusahaan tempat mengekspresikan emosi, baik dalam diskusi, bersikap, bertindak, menghasilkan produk, juga mengambil keputusan,

Ciptakan ruang emosi
Menciptakan ruang emosi, bukan secara harafiah menciptakan ruang untuk menangis, marah-marah, atau sejenisnya. Hal yang diperlukan justru memeriksa "job loading", di mana setiap tugas dianalisis kembali bobot keasikannya, tantangannya, menambah bobot pada hal-hal yang menggugah emosi, termasuk melakukan rotasi dan mendelegasi, termasuk menghilangkan birokrasi berbelit-belit yang membuat karyawan merasa lelah atau tidak berarti. Belajar, berkreasi dan bekerjasama dibuat kencang, diharuskan, sekaligus dijaga agar konstruktif.

Grup Hotel Shangri-la berhasil menjaga motivasi karyawan justru dari “Listening meetings”, di mana karyawan yang berbuat salah malah diberi kesempatan bicara dan didengarkan. Kesalahan dibedah bukan dengan suasana negatif, tetapi konstruktif. Melalui meeting itu, diadakan perbaikan standar, ceklis, juga perbaikan sikap. Dengan cara ini, turnover karyawan malah bisa ditekan dan karyawan lebih happy.

Work-life balance, dan sikap atasan, bukannya tidak penting, namun sifatnya lebih “bumbu” saja, sementara pekerjaannya sendiri tetap menjadi inti dan sumber utama happiness karyawan. Penelitian ahli teori motivasi Herzberg yang terakhir, juga mengemukakan bahwa hal yang lebih terbuka untuk dikotak-katik adalah esensi dari pekerjaan yang dilakukan. Manajemen perlu benar-benar memikirkan bagaimana "mengawinkan" individu dengan pekerjaannya, sehingga individu memang membahagiakan dirinya sendiri. Bila ini terjadi, hal-hal lain, pasti akan mengikutinya.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X