Kenapa Anak Suka Jajan ?

Kompas.com - 30/07/2013, 10:37 WIB
Murid-murid SD membeli jajanan saat jam istirahat di sekitar sekolah mereka di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (20/2/2013). Jajanan sekolah yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya berpotensi menjadi penyebab gangguan kesehatan bagi anak-anak.
KOMPAS/IWAN SETIYAWANMurid-murid SD membeli jajanan saat jam istirahat di sekitar sekolah mereka di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (20/2/2013). Jajanan sekolah yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya berpotensi menjadi penyebab gangguan kesehatan bagi anak-anak.
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com - Kebiasaan jajan pada anak kerap membuat para orangtua geleng kepala. Berbagai cara sudah dilakukan orangtua untuk mengalihkan kebiasaan ini, namun sering kali tidak membuahkan hasil. Anak masih tetap merengek minta jajan.

Orangtua kerap bertanya sebetulnya apa yang membuat buah hatinya suka jajan. Menurut psikolog anak, Dr. Rosemini A.P., M.Psi, sedikitnya ada 3 hal yang membuat anak suka jajan. Penyebab ini bersumber pada indera penglihatan dan perasa.

"Jajanan umumnya berharga lebih murah, berwarna menarik, enak di mulut, dan mudah dimakan," ujarnya pada Seminar Guru, Sehatnya Duniaku : Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu, dan Bergizi pada Sabtu (27/7) di Jakarta.

Hal ini didukung penelitian pada 2009. Penelitian ini membuktikan, 84 persen siswa sekolah dasar membeli jajan karena rasanya enak. Sedangkan 37 persen membeli jajanan yang disertai saus merah.

Disadari atau tidak, kebiasaan jajan pada anak merupakan hasil pembelajaran pada lingkungan sekitar. Rosemini mengatakan, pikiran anak masih sangat sederhana. Mereka akan mencontoh apa yang dilihatnya sehari-hari. Bila orang dewasa, misal orangtua dan guru, terbiasa jajan maka anak akan melakukan hal sama.

Sementara bila orangtua dan guru tidak sering jajan, hal yang sama akan terjadi pada anak. "Pendidik dan orangtua harus menjadi contoh. Pemberian contoh merupakan cara belajar yang efektif bagi anak," kata Rosemini.

Kebiasaan jajan semakin diperparah dengan tidak tersedianya panganan sehat. Padahal anak sangat membutuhkan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Hal ini didukung studi pada 2009 yang menyatakan, hanya 39 persen siswa yang membawa bekal dari rumah.

Akibatnya, anak tidak punya pilihan dan terpaksa makan jajanan bergizi minim tersebut. Dari penelitian beberapa sekolah dasar di Jakarta pada 2009 menyatakan, 68 persen siswa pernah jajan di luar pagar sekolah. Sebanyak 16 persen mengaku jajan di tempat yang sama 5-6 kali seminggu.

Rosemini menyarankan orangtua dan pendidik mengurangi kebiasaan jajan terlebih dulu. "Dengan cara ini lebih mudah mengajari anak tidak jajan sembarangan," kata Rosemini.

Selanjutnya orangtua harus memberi bekal dan mengajak anak sarapan sebelum ke sekolah. Bila perut sudah kenyang, maka anak tidak tertarik lagi dengan aneka jajanan yang dihidangkan. Bekal yang cukup juga mengurangi keinginan anak mengkonsumsi berbagai jajanan yang masih diragukan kesehatannya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X