Kompas.com - 20/08/2013, 11:31 WIB
Marischka Prudence menyayangkan begitu banyaknya destinasi wisata yang kekurangan infrastruktur pendukung. KOMPAS/WAWAN H PRABOWOMarischka Prudence menyayangkan begitu banyaknya destinasi wisata yang kekurangan infrastruktur pendukung.
EditorFelicitas Harmandini

”Aku juga senang ketika ada komentar pembaca yang datang ke tempat yang pernah aku kunjungi. Rasanya seperti dapat kado gede,” ujar Prue disambung tawa renyah.

Dari limpahan pilihan destinasi, Prue paling sering berwisata alam. ”Pantai dan laut menjadi destinasi kesukaanku, terutama di Indonesia,” ujar Prue yang mengantongi sertifikat selam dari Scuba Schools International demi ”mengintip” isi laut Nusantara.

Jalan ke luar negeri, kata Prue, tentu penting guna meraup pengetahuan kehidupan di negeri lain, tetapi beri jatah untuk Indonesia. ”Dari lima perjalanan, misalnya, satu kali di dalam negeri. Aku tipe yang dari sepuluh kali perjalanan, sembilannya untuk Indonesia. Kita sudah hidup di sini. Sayang kalau dilewatkan. Indonesia itu indahnya keterlaluan!” ujar Prue dengan mata bersinar-sinar.

Sayangnya, banyak destinasi kekurangan infrastruktur pendukung wisata. Dia mencontohkan, banyak tempat bagus yang sulit dan kadang mahal menjangkaunya. Tidak semua orang mau bersusah-susah tanpa tahu yang bisa didapatnya nanti. ”Tiket ke Singapura, misalnya, lebih murah ketimbang ke Jayapura. Kalau tidak ada tiket promo ke Indonesia Timur, orang pilih terbang ke luar negeri,” ujarnya.

Melepas pekerjaan tetap
Seperti sebuah pertanda, jalan hidup Prue pun serupa petualangan. Lulus dari bangku sekolah menengah atas, Prue terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Kriminologi di Universitas Indonesia. ”Barangkali karena aku senang film detektif, yah. Itu sebetulnya pilihan cadangan,” ujar Prue yang mengidamkan masuk ke fakultas seni rupa dan desain.

Setahun kemudian, Prue betulan pindah ke Jurusan Seni Rupa FSRD Institut Teknologi Bandung, dan lulus empat tahun kemudian dengan predikat cum laude. Suatu ketika, stasiun televisi mencari bakat dan Prue yang iseng mendaftarkan diri lalu diterima. Tiga tahun dia terjun dalam dunia jurnalistik dan sempat menjadi pembawa acara program jalan-jalan.

Pada suatu titik, Prue merasa jalan-jalan menjadi dunianya dan ingin hidup dalam perjalanan. Berbekal tabungan untuk hidup enam bulan (termasuk biaya jalan-jalan tentunya), Prue berhenti bekerja demi menekuni blog perjalanannya. Dia mengibaratkan pengalaman melepas pekerjaan tetap itu seperti bungee jumping. Prue yang takut ketinggian akan mulas-mulas dulu sebelum akhirnya melompat. Ketika resmi berhenti bekerja pada September 2012, dalam hati dia berjanji setidaknya harus bisa bertahan satu tahun.

”Anehnya, sebulan setelah berhenti bekerja langsung dapat tawaran yang berhubungan dengan jalan-jalan dan menghasilkan tambahan dana perjalanan selanjutnya ha-ha-ha. Ini barangkali jalannya,” kata Prue yang tidak ingin terjebak zona nyaman.

Tawaran menulis, undangan mempromosikan pariwisata oleh pemerintah daerah, hingga juri berbagai lomba penulisan perjalanan pun mengalir. Bahkan, pelaku pariwisata dari Selandia Baru pun merangkul Prue untuk mempromosikan wisata di Negeri Kiwi itu.

Prue begitu serius dengan dunia barunya. Tak jarang, jadwal perjalanan begitu rapat sehingga Prue yang baru mendarat di Jakarta sore hari sudah harus berangkat lagi keesokannya demi perjalanan lain. ”Ketika jalan-jalan, lelah tidak terasa. Baru terasa saat pulang, badan sudah seperti mayat hidup ha-ha-ha.”

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X