Jujur, Modal Utama Jadi "Food Blogger"

Kompas.com - 24/08/2013, 19:53 WIB
Jika ada kekurangan pada kualitas makanan atau layanannya, Ellyna Tjohnardi memilih langsung memberitahukannya ke pihak restoran. CULINARYBONANZA.BLOGSPOT.COMJika ada kekurangan pada kualitas makanan atau layanannya, Ellyna Tjohnardi memilih langsung memberitahukannya ke pihak restoran.
|
EditorFelicitas Harmandini

KOMPAS.com – Semua orang tentunya punya impian untuk bekerja sesuai passion-nya. Siapa sih yang tak ingin digaji untuk pekerjaan yang merupakan hobi dan minatnya?

Banyak dari mereka yang bisa mewujudkan impian semacam itu berangkat dari aktivitas sebagai blogger. Karena pengetahuan dan pengalamannya, blogger kemudian dinilai tak kalah pentingnya dengan wartawan dari media mainstream. Fashion blogger diundang ke peragaan-peragaan busana penting, travel blogger diundang untuk menjelajah tempat-tempat wisata, sedangkan food blogger selalu diajak mencoba tempat-tempat makan baru. Asyik, kan?

Beberapa brand terkenal bahkan tidak ragu untuk meng-endorse mereka untuk mempromosikan produk, namun dengan sudut pandang personal. Dengan demikian, pembaca merasa lebih ada kedekatan dengan objek yang dipaparkan.

Salah satu blogger yang cukup dikenal adalah Ellyna Tjohnardi, food blogger yang kemudian menjadi kolumnis di sebuah media berbahasa Inggris. Lewat blog-nya, culinarybonanza.blogspot.com yang ia mulai pada tahun 2011, Ellyna banyak menceritakan menu-menu baru di tempat yang sering ia kunjungi.

“Biasanya memang yang sering menarik perhatian para visitor di blog aku adalah kalau aku share tentang makanan di tempat baru. Itu menjadi seperti salah satu referensi mereka juga,” tuturnya saat berbincang dengan KompasFemale di Illuminare Ristorante, Senopati, Jakarta, Kamis (22/8/2013) lalu.

Kecintaan perempuan yang juga hobi fotografi ini terhadap kuliner memang tidak bisa dianggap sebelah mata. Dari hobinya itulah kini ia banyak digaet beberapa restoran untuk membantu mengulas menu makanan di restoran itu. Keberhasilannya sampai sekarang ini dikarenakan ia tetap jujur dalam mengulas makanan.

“Menjadi food blogger yang baik itu, ya mengulas menu makanannya tetap dengan pendapat yang jujur dan benar. Apa yang kita rasakan, itulah yang kita tulis. Tapi saya memang tidak pernah menulis yang negatif tentang makanan itu. Biasanya kalau ada yang kurang, pasti akan saya sampaikan langsung kepada pihak restorannya,” paparnya menjelaskan.

Karena keberadaan food blogger juga dirasa penting untuk membantu mempromosikan sebuah restoran, maka satu sama lain dianggap saling menguntungkan.

“Biasanya kalau kita membahas tentang satu restoran dan menu tertentu, kita memang diundang oleh restorannya. Jadi, kita saling mendukung satu sama lain. Kami bisa mencoba menu makanan baru, mereka juga menghargai kita sebagai food blogger,” ujarnya.

Agar tidak gendut
Walau menjadi food blogger terlihat sangat mengasikkan, aktivitas ini juga menimbulkan resiko tertentu. Apa lagi kalau bukan kesulitan menjaga keseimbangan berat badan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X