Kompas.com - 27/08/2013, 07:29 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
|
EditorFelicitas Harmandini
Perempuan seharusnya bisa bebas bergerak dan bekerja. Akan tetapi mengapa perempuan harus terus-terusan khawatir mengalami hal-hal buruk?
KOMPAS.com - Kasus perkosaan nampaknya masih jadi ancaman yang menakutkan bagi perempuan di berbagai belahan dunia. Hal ini membuat perempuan tak lagi aman dan nyaman untuk "bergerak".

"Mumbai seharusnya memiliki rasa aman. Namun kenyataannya hal-hal seperti ini membuat kami merasa bahwa kami tidak benar-benar aman. Perempuan seharusnya bisa bebas bergerak dan bekerja. Akan tetapi mengapa perempuan harus terus-terusan khawatir mengalami hal-hal buruk?" ungkap AL Sharada, Direktur Population First (lembaga non-profit di Mumbai yang aktif memperjuangkan hak perempuan), mengenai kasus perkosaan yang marak terjadi.

Setelah beberapa waktu lalu seorang mahasiswi kedokteran diperkosa di dalam bus dan akhirnya tewas, kali ini seorang pewarta foto diperkosa lima pria di Mumbai, India, saat sedang bertugas, Kamis (22/8/2013) lalu. Pascaperkosaan, banyak perempuan dan wartawan yang melakukan protes untuk meminta keadilan pada pemerintah India. Pemerintah federal India pun berjanji untuk menindak kekerasan seksual di India dengan memperketat hukuman untuk kejahatan seksual dan pelecehan.

Namun hebatnya, pewarta foto berusia 22 tahun ini punya kebesaran hati, kebijakan, dan logika berpikir yang baik. Melihat banyaknya dukungan berupa aksi demo kepada pemerintah, ia justru menulis surat kepada mereka.  "Perkosaan bukanlah akhir dari kehidupan. Yang saya inginkan adalah hukuman yang berat untuk semua pelaku, dan semoga saya bisa kembali bekerja sedini mungkin," tulis sang korban di atas ranjang rumah sakitnya.

Meski perempuan ini mengalami trauma, dokter yang menanganinya mengungkapkan bahwa ia keberanian yang mungkin tak dimiliki korban perkosaan lainnya. Setelah kejadian, perempuan ini langsung mencari bantuan medis ke rumah sakit Jaslok, melakukan pemeriksaan lengkap, dan membuat pernyataan lengkap. Sekalipun diancam dengan botol bir tajam dan foto-fotonya setelah diperkosa akan disebar, namun hal itu tak menyurutkan niat perempuan ini untuk melaporkan perkosaan yang dialaminya.

Keberanian dan kemampuannya berpikir logis ini sangat membantu dokter dan polisi untuk mengumpulkan sampel dan bukti penting untuk menangkap para pelaku. Di rumah sakit, korban juga membantu polisi untuk membuat sketsa lima pria yang memperkosanya.

"Dalam sebagian besar kasus perkosaan, korban biasanya tidak langsung pergi ke rumah sakit. Tetapi biasanya mereka langsung ke kantor polisi untuk melapor, atau malah pulang ke rumah dan mandi. Hal-hal ini akan menghancurkan bukti biologis perkosaan yang terjadi karena adanya penundaan waktu. Karena bukti yang hilang, polisi akan kesulitan untuk menangkap pelaku," ungkap dr Rajesh Dere, ahli forensik di rumah sakit Sion, India.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X