Teknik Masak "Deep Fried", Sehatkah? - Kompas.com

Teknik Masak "Deep Fried", Sehatkah?

Kompas.com - 27/08/2013, 17:16 WIB
SHUTTERSTOCK Metode deep fried merupakan teknik menggoreng dalam minyak panas dan banyak, sehingga bahan gorengan terendam sempurna.
KOMPAS.com - Aneka makanan renyah seperti tempura, ebi furai, atau chicken nugget, memang cocok jadi lauk pilihan keluarga. Kulitnya yang garing namun dagingnya yang lembut merupakan kunci utama kenikmatannya.

"Untuk menciptakan kerenyahan di luar namun lembut di dalam, maka gorengan berbalut tepung ini harus digoreng dengan metode deep fried," ungkap Chef Arnold Poernomo, saat peluncuran Fiesta Seafood di fX, Jakarta Selatan, Selasa (27/8/2013).

Metode deep fried merupakan teknik menggoreng dalam minyak panas dan banyak, sehingga bahan gorengan terendam sempurna. Hanya saja, banyak orang yang enggan menggunakan teknik ini karena dinilai tidak sehat, membuat makanan terlalu banyak minyak, dan menyebabkan kolesterol tinggi.

Menanggapinya, Arnold mengungkapkan bahwa hal ini tidaklah benar. "Proses deep fried ini sebenarnya sehat dan tidak terlalu berminyak, asalkan cara menggorengnya tepat," jelasnya.

Arnold menambahkan bahwa menggoreng dengan cara ini tak hanya sekadar akan merendam bahan makanan.  "Suhu minyak harus pas, berkisar antara 170 derajat Celcius," jelasnya. Selain masalah suhu, teknik deep fried  harus memerhatikan tingkat ketebalan tepung yang membungkusnya.

Salah satu juri Masterchef Indonesia ini lalu mengatakan bahwa proses pelapisan tepung yang terlalu tebal akan membuat daging di dalamnya jadi berminyak. Pelapisan tepung yang tebal akan membuat kulitnya berfungsi seperti spons yang menyerap banyak minyak. Akibatnya gorengan akan jadi sangat berminyak sampai ke dalam kulitnya. Ini yang membuat gorengan jadi tidak sehat.

Untuk itu, ia menyarankan agar lapisan tepung di gorengan memiliki ketebalan maksimal dua milimeter saja. Ketebalan dua milimeter ini setara dengan dua kali proses penepungan.

Dengan proses dua kali penepungan, balutan tepung yang menempel di daging, udang, atau makanan laut lainnya akan lebih tipis. Ketika proses penggorengan, tepung yang tipis ini tidak akan menyerap banyak minyak, sehingga kulitnya renyah dan daging di dalamnya tetap lembut dan juicy.

"Dengan tepung yang tipis, minyak hanya akan menggoreng tepungnya saja. Lalu tepung yang tergoreng ini akan menyebarkan panas ke dalam daging di bawahnya," katanya.

Karena panas yang disebarkan tepung, daging akan mengalami proses steam (kukus). Inilah yang membuat dagingnya tetap juicy dan lembut. Selain itu, jangan lupa untuk memakai minyak goreng yang sehat dan baru. Proses deep fried seperti inilah yang dikategorikan gorengan sehat.


EditorFelicitas Harmandini

Close Ads X