Maiko Takeda Persembahkan Penghias Kepala dari Duri Landak

Kompas.com - 19/09/2013, 17:33 WIB
Topi dari bulu landak yang kontroversial STYLETopi dari bulu landak yang kontroversial
Penulis Rahman Indra
|
EditorD. Syafrina Syaaf

KOMPAS.com – Desainer kelahiran Tokyo dan kini bermukim di London ini, meniupkan napas baru di ranah mode, khususnya lini aksesoris rambut.  Berani beda menjadi kunci dari kreativitas Maiko. Bahkan penyanyi asal Swedia, Bjork, tergila-gila pada hasil rancangan Maiko!

Pada pekan mode di London beberapa waktu lalu, desainer lulusan Royal College of Art ini memamerkan rangkaian koleksi yang mengusung tema “Atmospheric Reentry”.  Dengan tangkas, Maiko membaurkan atmosfir ruang angkasa pada arsitektural hiasan kepala dan rambut perempuan. Keunikkan lainnya dipertajam dengan aksentuasi warna duri yang menawan.

Sekilas desain koleksinya ini menyerupai barisan duri landak yang runcing. Namun, yang menarik hiasan rambut ini tak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tapi menyatu dengan keseluruhan busana .Tak ayal, ‘perangkat’ fesyen kreasi Maiko ini pun menjadi sorotan.

Demi menuangkan idealisme yang menyeluruh, Maiko tak mau tanggung-tanggung, untuk lini terbarunya ini ia menggunakan duri landak, bulu burung unta dan sisik ikan kecil warna-warni.

"Saya ingin membuat sesuatu yang seolah membuat seseorang sedang mengenakan awan di kepala, dan ide ini berawal dari pengalaman saya menonton opera Einstein on the Beach tahun 1976 di Barbican, mood dan suara yang dilibatkan membuat saya berimajinasi. Sangat futuristik dan juga minimalis," ungkapnya.

Untuk mengundang ide dan inspirasi kreatif, Maiko memilih Tilda Swinton sebagai muse. Jika melihat perilaku pecinta mode yang selalu mencari sesuatu yang baru.Rasanya tahun depan, perancang yang pernah mengenyam studi di Central Saint Martins ini akan sering terdengar. Bahkan, situs style.com menempatkan Maiko sebagai the next big thing dengan koleksi spring 2014.

Di Indonesia nama Maiko Takeda memang belum populer, maklum saja para pecinta mode tanah air memang cenderung mengikuti tren fesyen yang diarahkan oleh label ritel besar dan rumah mode berskala internasional. Sehingga tak heran, bila banyak  gaung desainer baik dari dalam ataupun luar negeri kerap ‘telat’ terdengar di tanah air.  

sumber: style.com



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X