Lenny Agustin : Generasi Muda Harus Melestarikan Batik

Kompas.com - 02/10/2013, 17:35 WIB
Lenny Agustin mengaku 7 dari 10 busananya di dalam lemari adalah batik. SUKMA INSPIRASILenny Agustin mengaku 7 dari 10 busananya di dalam lemari adalah batik.
Penulis Rahman Indra
|
EditorD. Syafrina Syaaf

KOMPAS.com- Sampai saat ini, desainer Lenny Agustin mengaku sudah merancang ratusan busana batik. Ketertarikannya pada salah satu kain nusantara ini, sudah dimulai sejak awal karier di tahun 2001. Dan pada tahun 2008 ia membuat lini khusus busana batik untuk anak muda di bawah label "Lennor". Kenapa anak muda?

“Karena saya percaya batik itu mestinya diteruskan oleh anak-anak muda, jadi rentang waktu bertahannya lebih lama,” ujarnya lugas saat dihubungi oleh KompasFemale di Jakarta, Rabu (2/10/2013).

Terakhir, ia mengeluarkan koleksi rancangan untuk Lennor dalam tema In The Wood yang membuat busana batik lebih berwarna dan berkesan gaul. Motif batik pesisir dengan nuansa warna-warna alam, seperti warna tanah, daun dan bunga dieksplorasi lebih jauh.

Menurut Lenny, untuk rancangannya ia lebih memilih batik pesisir, seperti Pekalongan dan Cirebon karena warna dan motifnya menarik, dan bercerita tentang kehidupan di masyarakat. Sementara kalau motif batik keraton seperti Solo dan Yogyakarta, punya pakem sendiri yang khusus, yang membuatnya sungkan untuk mengubahnya.

“Kalau motif batik pesisir, bisa lebih bebas untuk dibuat gaya apapun,” ujarnya.

Memilih untuk mengolah batik buat untuk anak muda, ditegaskan Lenny supaya ada tongkat estafet untuk generasi muda. Di samping itu, ia juga ingin agar batik lepas dari imej serius dan formal yang selama ini identik untuk busana kerja dan atau pesta.

Batik rancangan Lenny kemudian hadir dalam bentuk yang lebih bebas. Ada yang fleksibel dan sangat potensial untuk dipadupadankan. Bagi mereka yang punya jaket bisa dikombinasi dengan blus atau rok motif batik, dan sebaliknya. Pilihan warna juga lebih beragam, tidak melulu warna cokelat.

Untuk koleksi batik tema In the Wood, Lenny mengusung batik dari Solo, yang sebagian dibuat sendiri dan bekerjasama dengan eco batik untuk memakai pewarna alam. Ini ia lakukan sebagai salah satu bagian dari kampanye Go Green, dengan memanfaatkan bahan alami tanpa mencemari lingkungan.

Bahannya diambil dari daun jati yang jatuh, pohon yang siap ditebang, tanaman indigo yang tidak merusak jenis tanamannya. Pemilihan bahan dan pewarna alam menjadi tantangan sendiri untuk menjadikan batik yang berwarna namun masih tetap ramah lingkungan.

Lenny sendiri mengaku sebagai penyuka batik. Hampir tujuh dari sepuluh busana di lemari pakaiannya adalah batik. Maka tak heran kalau bertemu dengan desainer satu ini, ia sedang mengenakan batik.

“Imej batik sekarang sudah tidak lagi kuno dan jadul, justru lebih gaya dan kekinian, namun aplikasinya masih belum sebesar kaos, di mana orang lebih nyaman dan memakainya tanpa dipaksa,” ungkap dia.

Lenny berharap di masa yang akan datang, orang-orang mengenakan batik seperti halnya memilih kaos sebagai pakaian atau busana sehari-hari.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X