Bai Soemarlono: Saya Anti-Batik "Printing"!

Kompas.com - 03/10/2013, 10:29 WIB
Karya-karya Bai Soemarlono dari Populo POPULO BATIKKarya-karya Bai Soemarlono dari Populo
|
EditorD. Syafrina Syaaf
KOMPAS.com — Tinggal lama di Jerman nyatanya tak membuat Bai Soemarlono melupakan akar budaya tanah kelahirannya. Malah di negeri orang ini, ia justru merindukan batik dan berkarya lantas memopulerkannya. 

"Batik sudah terkenal. Tapi buat saya tak cukup terkenal saja. Saya ingin semuanya bisa memakai batik," kata Bai Soemarlono sesaat setelah fashion show di Lucy in The Sky, SCBD, beberapa waktu lalu. (Baca: Koleksi Batik Modern dengan Cita Rasa Jerman)

Karena sulitnya mencari bahan batik dan menemukan model busana yang bisa memuaskannya, desainer ini memutuskan untuk menciptakan sendiri baju-baju batik sesuai kesukaannya. Pada tahun 1995 silam, ia mulai mendesain bahan-bahan batik Yogya sesuai dengan model busana favoritnya. Populo, yang memiliki arti komunitas, pun dipilih menjadi nama label busana.

Sebagai ciri khas pada batiknya, ia banyak menggunakan batik dengan motif royal (kerajaan) dan motif klasik seperti swastika dan manggaran. Semua batiknya merupakan batik tulis dan cap. "Saya tidak mau menggunakan batik print karena batik print akan membuat teknik batik asli jadi mati. Saya antiprinting," ucapnya sembari tertawa. 

Lama tinggal di Jerman membuat Bai lebih mengenal selera busana internasional. "Saya lihat anak gaul Jerman lebih suka busana yang bergaya smart, cool, dan individualis. Mereka lebih suka bereksperimen dengan padu padan busana," paparnya. Bai menambahkan bahwa ia adalah sosok yang sangat idealis, tetapi tetap melihat tren yang berlangsung. Ia akan mendesain busana sesuai ciri khas dan keinginannya.

Ketika membuat satu busana, ia akan membiarkan pelanggannya untuk menentukan kain batik yang diinginkannya. Kemudian, mereka akan dipersilakan untuk memilih desain busana yang ada, baru kemudian Bai akan mewujudkannya dalam satu busana be spoke dan ready to wear premium. Tak cuma untuk dibuat jadi busana pria dan wanita, ia juga mendesain sepatu dan tas dari batik. 

Ketika mendesain batik ini, ia menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah produksi batik. Selain proses pembatikan yang butuh waktu lama, proses penjahitan dan lainnya juga butuh waktu lama. "Karena semuanya handmade jadi cukup sulit membuat banyak koleksi dalam satu waktu," ujarnya. 

Sampai saat ini, karena masih harus bolak-balik Indonesia-Jerman, Bai mengaku masih terus mengikuti perkembangan batik di Jerman. Ia mengungkapkan bahwa masyarakat Jerman sangat menyukai kreasi batik-batik dari Indonesia. (Baca: Remaja Gaul Berlin Senang Pakai Batik)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X