Lisa Virgiano, Pecinta Resep dan Makanan Tradisional Indonesia

Kompas.com - 07/10/2013, 10:53 WIB
Lisa Virgiano, bisa dibilang sebagai salah satu pakar kuliner yang mendirikan Maharasa Indonesia. Lisa Virgiano, bisa dibilang sebagai salah satu pakar kuliner yang mendirikan Maharasa Indonesia.
Penulis Rahman Indra
|
EditorLusia Kus Anna

 

KOMPAS.com -Bagi Lisa Virgiano, Indonesia kaya akan budaya makanan. Ini bukan sekedar slogan dan anggapan seperti yang diyakini banyak orang, karena dia sendiri telah mencoba menelusurinya bertahun-tahun.

Sejak bulan Juli lalu, ia meninggalkan aktivitas rutinnya di Jakarta dan memutuskan menetap bertani di Imogiri, Yogyakarta. Wilayah ini terkenal dengan tanahnya yang tandus dan ada anggapan; ‘hanya orang gila yang berani memutuskan bertani di sana, karena susahnya’.

“Saya merasa tertantang namun juga percaya bahwa tidak ada yang mustahil jika dikerjakan dengan sunguh-sungguh,” ujarnya, ketika ditemui di Oktagon, Kemang, Jakarta, Selatan awal Oktober lalu.

Perempuan berusia 31 tahun lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, singkong paling legit berasal dari daerah manapun di Yogyakarta. Dengan memanfaatkan lahan seluas 2,5 hektar dia menerapkan konsep permanen agrikultur dan membangun mini hutan di sana. Tidak hanya menanam pangan tapi juga beternak sapi, ikan, bebek dan membuat biogas.

Lalu juga ada bank cacing untuk kompos bernutrisi. Tanaman yang ditanam pun ada banyak, seperti talas, selada, basil, kemangi, labu, ketimun, tomat ceri, hingga bawang merah organik. Di samping itu juga ada jagung lokal, dengan mengupayakan bibit milik sendiri. Kata dia, ini adalah tantangan besar karena para petani biasanya ketergantungan dengan bibit impor, padahal bisa diupayakan sendiri. Karena listrik belum masuk, maka ia pun memanfaatkan solar panel dan generator.

“Kehadiran saya juga ingin menunjukkan ada anak muda yang peduli,” tambah dia.

Lisa menemukan fakta menarik sekaligus memprihatinkan mengenai anak muda di Imogiri. Katanya, anak-anak muda di sana lebih memilih bekerja di konter ponsel dan supermarket daripada bertani. Alasannya, kerja sebagai tani kotor dan tidak keren.

“Saya bukan petani, tapi saya punya beberapa orang ahli yang saya bisa hubungi. Saya ingin menjadi jembatan buat para petani buat melihat dunia luar, yang menikmati hasil tanam mereka,” ungkapnya lagi.

Disinilah sekarang Lisa, ia hadir di Jakarta untuk event besar yang menghadirkan berbagai macam makanan tradisi dari berbagai daerah di Indonesia lewat Mighty Culinary 2013 yang diusung majalah Sedap. Ia menjadi salah satu kurator yang kemudian memilih sembilan jenis makanan tradisional yang ia percaya akan menjadi makanan favorit sekaligus bernilai tinggi.

“Kita itu kaya akan beragam jenis makanan tradisi, dan kali ini saya bawa mereka para koki rumahan ini untuk menampilkan makanan khas tradisinya yang enak luar biasa,” ujarnya bersemangat.

Salah satu dari jenis makanan menjanjikan itu di antaranya ada Kulat Lempah Palawan, dengan bahan utama jamur kulat dari Palawan. Jamur yang hanya tumbuh di Pulau Bangka ini dikenal sangat langka. Sampai saat ini jamur kulat ini belum bisa dibiakkan, seperti jamur lainnya. Untuk mendapatkannya pun mesti memburu ke hutan. Harganya saat ini bisa mencapai setengah juta perkilogram, dan tentunya sebanding dengan rasanya yang enak.

Lalu, ada Gulai Ebi Pisang Muda. Ini merupakan makanan dengan pisang yang dibikin gulai dari Sumatera Utara. Rasanya mirip dengan rasa kentang. Pisang pun, seperti juga jagung, ada banyak jenisnya. Sesuatu yang mungkin tidak banyak kita ketahui karena terbiasa didikte oleh pasar dengan menu yang tersedia.

“Pisang Indonesia itu ada banyak jenisnya, begitu juga jagung, siapa mengira kalau ada jagung di Buton yang tumbuhnya di sela-sela batuan, warnanya putih, legit dan tidak mengandung banyak air,” ujarnya.

Jamur kulat, pisang muda dan jagung Buton menjadi tiga dari sembilan jenis makanan yang sudah dikurasi Lisa, dan dijadwalkan tampil di Indonesia Food Gallery, Mighty Culinary 2013. Kata dia, untuk memasak makanan tradisi ini turut diboyong mereka koki daerah yang akan mengenalkan masakan daerahnya lengkap dengan bumbu otentik dan teknik memasak khas daerah.

“Bertemu dengan mereka akan membuat kita percaya dan berdecak kagum, betapa kayanya resep dan makanan tradisi Indonesia, dan untuk membuatnya tidak rumit seperti yang dikira selama ini,” tambah dia.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X