Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 11/10/2013, 09:57 WIB
Unoviana Kartika

Penulis


KOMPAS.com - Kebutaan merupakan masalah penglihatan yang menurunkan kualitas hidup penderitanya dan orang-orang di sekelilingnya. Sayangnya, kasus kebutaan jumlahnya masih tinggi di Indonesia.

Menurut data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) tahun 2010, diperkirakan setiap satu menit ada satu orang menjadi buta di Indonesia. Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) dr Nila F Moeloek, SpM mengatakan, sebagian besar orang buta di Indonesia berada di daerah miskin dengan kondisi ekonomi lemah.

"Karena itu, dibutuhkan peran banyak pihak untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mata," tegasnya dalam seminar media SOHO #BetterU bertajuk "Hari Penglihatan Sedunia", Rabu (9/10/2013) di Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, dr Johan Hutauruk, spesialis mata dari Jakarta Eye Center menekankan pada lima penyakit mata tersering yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Untuk dapat menghindarinya, maka kenalilah lima penyakit tersebut, berikut.

1. Kelainan refraksi

Kelainan refraksi dibagi menjadi empat yaitu: presbiopi atau menurunnya kemampuan akomodasi lensa, miopi atau rabun jauh, hipermetropi atau rabun dekat, dan astigmatisme atau yang dikenal dengan istilah silindris.

"Biasanya untuk menangani kelainan refraksi, digunakan kaca mata, lensa kontak, atau lasik. Penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah penyakit semakin parah," tegas Johan.

Agar tidak terlanjur mengalami kelainan refraksi yang semakin parah, imbuh dia, diperlukan pemeriksaan rutin minimal satu tahun sekali untuk kesehatan mata.

2. Konjungtivitis

Konjungtivitis adalah penyakit mata yang disebabkan karena adanya peradangan pada selaput mata. Gejala yang timbul berupa mata merah, gatal, dan berair. Penyebab penyakit mata ini antara lain iritasi karena polusi, alergi, dan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur.

Menurut Johan, diperlukan pemeriksaan ke dokter mata agar tidak salah diagnosis terhadap penyebab dari konjungtivis. Ini karena risiko dari mengobati sendiri penyakit ini cukup tinggi, seperti meningkatnya tekanan mata yang memicu kebutaan.

3. Pterigium

Pterigium adalah penyakit mata yang disebabkan karena adanya pertumbuhan jaringan berbentuk segitiga di lapisan membran tipis bening (konjungtiva) di bagian putih mata. Hal ini disebabkan karena radiasi sinar ultraviolet, paparan matahari serta iritasi kronis yang berasal dari asap, debu, angin, atau benda-benda asing.

Pterigium ringan dapat diatasi dengan penggunaan obat tetes atas petunjuk dokter. Sementara jika sudah menimbulkan gejala yang berat seperti penglihatan menjadi buram, maka perlu dilakukan operasi pengangkatan.

4. Katarak

Katarak adalah penyakit mata yang disebabkan oleh lensa mata yang keruh sehingga masuknya cahaya pada retina jadi terhalang. Katarak umumnya disebabkan karena proses penuaan. Tetapi, beberapa faktor seperti paparan sinar ultraviolet, penggunaan obat-obatan seperti steroid dan diabetes juga dapat meningkatkan risiko katarak.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, katarak merupakan penyakit mata penyebab kebutaan pertama di Indonesia. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan operasi mata guna mengangkat lensa berkabut yang sudah tua dan menggantinya dengan implantasi lensa plastik baru.

5. Glaukoma

Glaukoma adalah penyakit mata yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di bola mata. Johan mengatakan, pada awalnya penyakit ini biasanya tidak menimbulkan gejala. Namun penglihatan perlahan menurun dan luas pandang menjadi semakin menyempit.

Glaukoma ringan bisa diatasi dengan penggunaan obat tetes dengan petunjuk dokter. Sedangkan glaukoma berat memerlukan tindakan operasi. Penyakit mata ini merupakan penyebab kebutaan kedua di Indonesia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com