Menikah karena Cinta, Rentan Tidak Bahagia

Kompas.com - 19/11/2013, 12:22 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
EditorSyafrina Syaaf

KOMPAS.com — Perempuan yang menikah dengan pasangannya tanpa landasan cinta yang kuat dianggap manipulatif, oportunistis, dipandang rendah, dan dicap sebagai pengeruk harta. Tetapi, tidak selamanya ini benar!

Memang benar bahwa cinta tidak pernah salah, kekuatan cinta mengalahkan segalanya, dan cinta merupakan simbol kebahagiaan. Namun, dunia tidak berjalan dengan prinsip yang sama. Singkatnya, tidak ada makan siang yang gratis.

Pada era Victoria dan Revolusi, pernikahan politik atau pernikahan bisnis lumrah terjadi dan cenderung menjadi kewajiban, khususnya mereka yang lahir dari keluarga bangsawan dan terpandang. Tetapi, sekarang budaya usang ini dipandang tidak beradab dan melanggar hak asasi manusia.

Menurut para pakar pernikahan, seperti Andrew Cherlin, penulis buku Marriage-Go-Round; dan Stephanie Coontz, penulis buku Marriage, A History, ketika seseorang mengupayakan cinta sebagai kekuatan paling tinggi dari pernikahan, justru dia sedang melemahkan dirinya sendiri.

Memutuskan menikah dengan seseorang yang Anda percaya dapat mengubah hidup jadi lebih baik, bukan sesuatu yang salah, selama tidak merugikan orang lain. Menikahlah demi kehidupan yang lebih berkualitas untuk anak supaya mereka memperoleh pendidikan yang layak, kamar yang nyaman untuk belajar, dan memori masa kecil yang berkesan. Ini bukan perilaku materialistis, tetapi realistis!

Berikut tiga alasan mengapa menikah karena cinta bukan pilihan yang bijak dan rentan berakhir dengan perceraian. Yuk, disimak.

Cinta itu rapuh

Anda bertemu dirinya, tertarik dan boom... jatuh cinta! Anda pikir ini sudah suratan, akhir bahagia yang telah lama dinantikan. Namun ingat, menikah adalah komitmen seumur hidup, yang dibutuhkan sudah pasti lebih dari sekadar cinta, tetapi juga pemikiran yang jauh ke depan.

Cinta tidak selalu menjadi fondasi kuat pernikahan

Ya, cinta memang kuat, tetapi semakin besar cinta Anda, semakin besar juga potensinya untuk menguap dan hilang. Cinta berarti harapan, saat harapan ini tidak terpenuhi, rasa kecewa yang Anda rasakan akan lebih menyakitkan. Dan, saat ini semua terjadi, penyesalannya lebih dalam dari cinta itu sendiri.

Cinta tidak selalu harus melakukan apa pun untuk pasangan

Ketika Anda mencintai seseorang, keinginan membahagiakan dirinya adalah efek domino yang berbahaya. Ya, dengan begitu, Anda akan melupakan diri sendiri karena hidup Anda hanya berpusat pada pasangan. Padahal, pernikahan yang sebenarnya memerlukan upaya dan kerja keras yang sepadan dari suami dan istri, kerja sama yang mustahil dilakukan apabila cinta memberatkan salah satu pihak.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X