Hati-Hati, Efek Samping Manicure pada Kulit dan Tubuh Anda

Kompas.com - 02/12/2013, 16:56 WIB
shutterstock Perawatan kuku

KOMPAS.com - Bagi perempuan yang memiliki aktivitas nan padat, memiliki kuku yang sehat dan bersih merupakan salah satu penunjang penampilan yang utama. Salah satu perawatan kuku yang praktis dan tidak memerlukan banyak waktu adalah manicure dan pedicure.

Namun, benarkah perawatan kecantikan ini satu-satunya cara demi mendapatkan kuku sehat dan bersih? Ternyata tidak! Bahkan, dermatolog dan Presiden British Cosmetic Dermatolog Group mengungkapan bahwa manicure dan pedicure dinilai agresif, dan sebenarnya terbilang sangat membahayakan.

"Menggores kuku dan filling yang dilakukan saat manicure, akan menyebabkan kerusakan permanen di pada permukaan dan dasar kuku," ungkapnya.

Lapisan-lapisan kuku atau pernis dan akrilik yang melapisi bagian atas kuku, seiring berjalannya waktu malah menyulitkan proses degradasi. Bahkan, beberapa pernis ditengarai mengandung formaldehida yang bisa memicu reaksi alergi.

"Kuku adalah perpanjangan dari kulit Anda. Kuku akan selalu berkembang dan berpori. Jika kuku rusak akibat terlalu banyak perawatan, maka membutuhkan waktu untuk memperbaikinya," tambahnya.

Selain masalah pernis, alat-alat yang digunakan saat manicure meskipun terlihat kecil dan ringan, tapi bisa menimbulkan efek samping yang terbilang berbahaya. Dr Lowe mengungkapkan jika alat manicure tidak steril maka ada risiko infeksi pada kulit. Misalnya, risiko infeksi jamur, pendarahan pada kuku, terpapar bakteri,dan virus. Bahkan, pada kasus tertentu alat-alat manicure yang tidak steril bisa mengakibatkan kanker kulit!

Rebecca Mills, seorang Asisten Keuangan di Inggris adalah salah satu korban dari efek samping menyeramkan dari perawatan manicure. Suatu hari, ia pernah mencoba manicure gel yang tengah tren di Inggris dan melapisinya dengan kuku palsu.

Beberapa hari kemudian, ‘mimpi buruk’ dalam hidupnya pun bermula, tiba-tiba ia merasakan terdapat kerusakan mengerikan pada kukunya. Kuku palsunya mulai lepas setelah beberapa hari, parahnya pelepasan kuku palsu ini juga ikut merobek kulit bawah kukunya.

 "Saat saya sadar, kerusakan sudah terjadi. Malam itu, jari saya berdenyut-denyut dan nyeri. Saya bahkan harus minum obat penghilang rasa sakit," jelasnya.

Manicure gel merupakan perawatan kuku yang melibatkan gel berwarna yang dioleskan pada kuku dan mengeras dengan bantuan sinar UV. Seminggu kemudian, gel akan dihapus dengan menggunakan aseton.

Sekarang perawatan ini memang tengah populer, tetapi ternyata benar yang diucapkan banyak pakar kecantikan, bahwa apa pun yang menjadi tren tidak selamanya baik untuk kulit dan tubuh Anda. Sebuah studi pada tahun 2009, menemukan bahwa perempuan yang tak memiliki riwayat kanker kulit bisa mengalami tumor karena paparan lampu UV yang terlalu lama pada kuku.

Wah mengerikan sekali, lalu apakah ini berarti perempuan tidak boleh lagi melakukan manicure dan pedicure?  Mengenai hal ini, Lowe menjelaskan, bukannya tidak boleh dilakukan, namun sebaiknya batasi perawatan kuku ini 1-2 kali setahun!


EditorSyafrina Syaaf
SumberDailymail

Close Ads X