Agar Arisan Tak Menjadi Ajang Pamer

Kompas.com - 07/12/2013, 12:03 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
Penulis Rahman Indra
|
EditorLusia Kus Anna

 

 

KOMPAS.com - Arisan sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Dulu, kegiatan ini umumnya di lakukan di rumah anggota arisan, namun di era modern ini arisan sering dilakukan di mal, restoran, atau bahkan hotel.

Yang membedakan arisan dulu dan sekarang adalah "kehebohan" dandanan para peserta arisan karena umumnya acara arisan memiliki aturan berbusana alias dresscode. Hal itu tidak berlaku di arisan sosialitas saja, bahkan arisan "biasa" yang diikuti ibu-ibu RT pun kini juga mencantumkan dresscode.

Tak heran jika saat arisan para peserta sibuk mempersiapkan diri dan busana yang akan dipakai. Bukan hanya memilih baju dan sepatu yang sesuai, aksesori dan tas pun kalau bisa harus yang branded. Wajar jika kemudian muncul anggapan bahwa arisan menjadi ajang pamer.

Psikolog Sani B.Hermawan, mengatakan, arisan pada dasarnya berangkat dari kebutuhan individu untuk bertemu dengan sesamanya, untuk bersosialisasi. Hanya saja motifnya kemudian berkembang. Ada yang ingin kumpul-kumpul saja, ingin bergosip, pengajian, atau memang jadi ajang pamer.

“Baik buruknya manfaat itu arisan tergantung pada anggota yang ikut arisan dan apa motif dari arisan yang diikuti,” ujar Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani ini ketika dihubungi KompasFemale beberapa waktu lalu.

Sani mencontohkan, jika motifnya memang untuk pamer, maka biasanya setiap anggota akan selalu hadir dengan busana atau aksesori terbaru dan kalau bisa bermerek. Bahkan ada yang terpaksa harus membeli barang bermerek yang bekas atau palsu supaya diterima oleh anggota lainnya. Ini berbahaya, karena kalau ketahuan akan dicemooh dan jadi bahan perbincangan.

"Namun, ada juga yang motifnya dari awal memang positif. Seperti ingin memperluas jejaring pertemanan dan sekadar refreshing dan rileks," katanya.

Ia menambahkan, arisan akan menjadi negatif bila motifnya bersifat pribadi. Misalkan, ketika bertemu teman yang lebih kaya dan kemudian merasa paling miskin dan sedih, ini tentunya tidak baik. Atau kemudian menjadi membanding-bandingkan harta yang dimiliki dengan orang lain, ini justru akan membuat seseorang merasa terpuruk.

“Arisan yang baik adalah ketika ikut di dalamnya kita menjadi lebih rileks dan ketika pulang mood menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Tentang arisan ini, Sani menganjurkan setiap wanita bisa melihat pada karakter dan kepribadian masing-masing sebelum menentukan ikut sebuah arisan atau tidak. Jika merasa cocok dan bernilai positif, kenapa tidak. Begitu juga sebaliknya.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X