Kehilangan Pekerjaan, Begini Cara Menyampaikannya Pada Anak

Kompas.com - 15/12/2013, 18:04 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
|
EditorSyafrina Syaaf

KOMPAS.com - Kehilangan pekerjaan adalah hal yang cukup menyulitkan bagi banyak orang. Khususnya bagi mereka yang memiliki anak. Karena tak dimungkiri bahwa membesarkan anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Mungkin di fase awal kehilangan pekerjaan, Anda belum merasakan dampak yang signifikan pada keuangan keluarga, di mana arus kas rumahtangga masih dapat terpenuhi dengan dana yang berasal dari tabungan Anda. Tetapi setelah tiga bulan berlalu dan Anda belum mendapatkan pekerjaan baru, mau tidak mau pengeluaran harus disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya.

Niatnya sih, tak ingin mengecewakan anak-anak dengan tidak mengurangi uang jajan atau memotong "jatah" membeli mainan. Tetapi mau bagaimana lagi, suka tidak suka Anda harus menggerilyakan penghematan, setidaknya sampai mendapat pekerjaan baru nantinya. 

Perlukah mengatakan pada anak-anak bahwa Anda sudah kehilangan pekerjaan sehingga mereka harus berhemat? "Anak-anak hanya perlu mengetahui apa yang harusnya mereka tahu, apa yang akan berubah dan apa yang tidak berubah dalam hidup mereka ," ungkap John Duffy, Psy,D, Psikolog Klinis dan penulis buku The Available Parent: Radical Opyimism for Raising Teen and Tweens.

Jadi, boleh saja sih mengatakan pada anak bahwa Anda tidak lagi bekerja, tapi pilihlah kata-kata yang muda dicerna oleh anak. Hal yang paling sulit adalah saat anak masih berusia delapan tahun, sebab di kisaran usia tersebut, pada dasarnya anak-anak memang memerlukan banyak kebutuhan untuk proses tumbuh-kembang yang menyeluruh dan berkualitas baik.

Duffy mengungkapkan bahwa anak-anak di usia sekolah perlu mengetahui apa yang bisa mereka harapkan dari orangtua mereka. Jika semua ini harus berubah maka mereka harus diajarkan cara dan tip untuk mengantisipasi perubahan ini. "Dengan berhentinya Anda dari pekerjaan dan kenyataan bahwa hidup mereka akan berubah, secara otomatis mereka akan mengalami pergolakan emosional. Pemberitahuan di awal ini akan mengurangi efek negatif yang mungkin terjadi pada anak," jelas Duffy.

Yakinkan kepada mereka bahwa semua hal ini bisa dilewati bersama-sama. Jangan terlalu panik dan bicara terlalu banyak tentang masalah dan pikiran Anda. Anak-anak tidak perlu harus tahu secara mendetail masalah keuangan yang tengah dihadapi oleh orangtua mereka.

Usai menjelaskan kondisi Anda pada anak, tanyakan kepada anak apa yang mereka rasakan. Kemudian, ulangi lagi inti dari perasaan mereka. Misalnya, "Ibu tahu kalian kecewa. Ibu juga sedih karena harus membatalkan liburan. Tapi ibu janji, liburan di rumah juga pasti menyenangkan." 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X