Bagaimana Mengurangi Sifat "Gila Kerja"?

Kompas.com - 16/12/2013, 16:16 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com –
Mumpung masih muda, kita harus mengejar prestasi setinggi-tingginya. Begitu motto yang banyak dipakai para pekerja yang sedang giat merintis karier. Tak jarang, kesehatan pun diabaikan demi menyelesaikan target pekerjaan yang sangat padat. Selain kerja lembur, bekerja di akhir pekan pun dilakoni.

Peristiwa meninggalnya Mita Diran, pada Sabtu (14/12/13) seorang copywriter di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta mengejutkan banyak pihak. Terutama kematiannya diduga karena ia bekerja selama 3 hari terus menerus tanpa jeda.

“30 hours of working and still going strooong,” kicaunya pada akun Twitter pribadinya @mitdoq tepat tanggal 14 Desember 2013 lalu.

Bagi kebanyakan orang, menyeimbangkan tuntutan karir dan kehidupan pribadi merupakan tantangan yang tidak pernah ada habisnya. Terutama jika terjadi pada masa perusahaan sedang mengejar target. Para karyawan pun berusaha memberikan segalanya karena ingin menunjukkan dedikasi mereka.

Semangat bekerja terutama sangat nyata terlihat pada mereka yang memang menyukai bidang kerja yang digelutinya sehingga kantor menjadi rumah kedua mereka. Meski begitu, gila kerja sebenarnya bisa jadi bumerang. Bukan hanya bagi kesehatan, seperti pada kasus Mita, tapi juga secara psikologis bisa menyebabkan kita kelelahan secara mental (burn out).

Jody Greenstone Miller, penulis buku dan juga Chief Executive dari Business Talent Group menjelaskan, secinta apa pun Anda pada pekerjaan, akan lebih sehat jika kita memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. "Anda harus mulai fokus pada prioritas yang lebih penting," katanya.

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan keseimbangan tersebut?

Pelajari kebijakan perusahaan

Ketahui apakah perusahaan menerapkan kebijakan jam kerja fleksibel yang memperbolehkan Anda bekerja dari rumah. Manfaatkan kelonggaran jam kerja ini untuk menunjukkan performa Anda. Meski bekerja dari rumah, buatlah batasan kapan waktu mulai kerja, kapan istirahat, dan kapan waktunya berhenti. Sebagian besar orang yang bekerja fleksibel justru mengeluh karena mereka hampir bekerja nonstop.

Komunikasi

Jika tidak dapat hadir untuk sebuah rapat padahal sebenarnya ini hari libur Anda, katakan pada atasan bahwa Anda membutuhkan waktu istirahat agar bisa berkumpul bersama keluarga. Satu dua kali mungkin tidak masalah melewatkan waktu libur, tetapi jika hal itu berlangsung terus menerus, tentu Anda berhak meminta jatah libur.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber forbes.com
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X