Kompas.com - 07/01/2014, 09:57 WIB
Sarung yang dimodifikasi oleh mahasiswi Universitas Telkom Bandung DocSarung yang dimodifikasi oleh mahasiswi Universitas Telkom Bandung
|
EditorSyafrina Syaaf

Jakarta – Kampanye Indonesia Fashion Week (IFW) untuk menjadikan sarung sebagai konten lokal yang mengglobal sudah digaungkan sejak tahun 2012. Tujuannya agar sarung dapat dikenakan sebagai pakaian sehari-hari, namun dengan sentuhan yang lebih modern, jadi tidak hanya sekadar sebagai kostum adat yang dikenakan pada acara-acara seni budaya saja. 

Sejak kampanye ini disosialisasikan, pergerakan sarung dalam gaya hidup sehari-hari masyarakat urban sudah mulai terlihat, walau memang tidak pesat seperti kain batik atau tenun yang sudah marak digubah menjadi busana kerja dan kasual. 

Menurut Irna Mutiara, salah satu desainer yang tergabung dalam IFW mengatakan, kerja keras para perancang lokal di IFM untuk mengepankan kain sarung di tengah masyarakat yang kian modern ini, sedikit demi sedikit ada kemajuannya, setidaknya pada level industri.

"Kita melihatnya bukan dari berapa banyak orang yang pakai sarung. Saya kan sering ke sentra industri, jadi beberapa waktu lalu sempat mengunjungi Majalaya, Jawa Barat, sekitar 2012. Salah satu penjual sarung Majalaya bilang, produksi sarung sekarang meningkat, tidak hanya di bulan Ramadhan atau Idul Adha, tapi tiap bulan sama jumlah produksinya. Berarti dari sisi industri ada peningkatan secara signifikan," ujar Irna kepada KompasFemale di sela-sela kunjungan media ke Bromo dan beberapa daerah di Jawa Timur bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan IFW pada 28-31 Desember 2013 lalu, sebagai bagian dari rangkaian program 'Let's Talk About Local Movement'.

Tidak hanya level industri produksi sarung yang mengalami kemajuan, pengaruh kampanye positif ini juga sudah mulai berpenetrasi pada gaya hidup generasi muda. Beberapa waktu lalu, IFW dan Kemenparekraf mengadakan acara flash mob sarung di Universitas Padjadjaran Bandung pada tanggal 22 Desember 2013 lalu, acara ini diikuti oleh 200 mahasiswa dari seluruh kota Bandung.

Menurut mereka, sarung sekarang sudah bisa dimodifikasi untuk bisa tampil lebih gaya dan modern.

"Awal lihat sarung, kesannya cuma buat laki-laki, terlalu tua. Tapi ternyata sarung juga bisa dibuat lucu, enggak selalu buat laki-laki," ujar Ulelatul KH, mahasiswi Universitas Telkom jurusan Kriya Tekstil dan Mode, salah satu pemenang kompetisi kreasi sarung yang turut serta pada kunjunga media ke Bromo.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Irna menambahkan, "Dengan anak-anak (mahasiswa) ini ikut kompetisi, memori akan bekarja dan bersenang-senang dengan sarung akan tertanam. Jadi, kelak mereka akan berkreasi, mudah-mudahan akan ingat sarung terus ."

Bagaimana dengan Anda, apakah juga suda mulai tertarik mengenakan sarung sebagai kain yang stylish dan modern? Mari berkreasi dan bangga berbangsa dari sekarang!



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.