Menyandang Autisme Mirip dengan Nonton Film Asing - Kompas.com

Menyandang Autisme Mirip dengan Nonton Film Asing

Kompas.com - 16/01/2014, 09:13 WIB
Shutterstock Ilustrasi


KOMPAS.com —
Kendati penelitian tentang autisme berkembang dengan pesat, penyebab pasti gangguan ini masih belum diketahui. Selain itu, apa yang benar-benar dialami anak dengan autis juga masih menjadi misteri. Namun, sebuah studi baru dari ilmuwan di Vanderbilt Brain Institute mungkin dapat mengungkapnya.

Studi yang dimuat dalam Journal of Neuroscience tersebut menemukan, menyandang autisme mungkin dapat disamakan seperti menonton film asing dengan penyuaraan yang buruk sehingga sulit untuk mengombinasikan apa yang dilihat serta didengar.

"Banyak usaha dan energi yang dibutuhkan untuk mengobati anak autis, namun belum ada yang dapat menggambarkannya secara virtual dengan dasar empiris yang kuat yang berhubungan dengan fungsi sensoris," ujar Direktur Vanderbilt Brain Institute Mark Wallace.

Menurut dia, mengobati defisit fungsi sensoris dari awal akan memperbaiki kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, serta interaksi sosial anak autis.

Wallace dan timnya membandingkan 32 anak sehat dengan usia 6-18 tahun dengan 32 anak lainnya yang mengidap autisme. Para peneliti membandingkan kesehatan fisik dan mental kedua kelompok, termasuk IQ, dengan cara memberikan serangkaian tes. Peserta diminta untuk mengobservasi beberapa seri audiovisual, lingkungan, dan omongan.

Setelahnya, para peneliti menemukan pada kelompok anak autis terjadi perluasan temporal binding window (TBW). Anak dengan perluasan TBW cenderung lebih sulit untuk mengaitkan peristiwa visual dan pendengaran. Menurut Manual Diagnosis dan Statistik Gangguan Mental Edisi Kelima (DSM-5), proses sensorik diurutkan sebagai defisit utama pada autisme.

Peneliti studi Stephen Camarata, profesor ilmu pendengaran dan bicara, mengatakan, anak autis mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan pendengaran dan penglihatan. Mereka kesulitan dalam mengintegrasikan informasi dari mata dan telinga mereka.

"Sehingga dapat diibaratkan, menyandang autisme bagaikan menonton film asing dengan penyuaraan yang buruk, sehingga sinyal suara dan visual tidak sesuai pada otak mereka," jelasnya.

Menurut pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (CDC), anak autis biasanya mengalami penundaan kemampuan berbahasa yang signifikan, memiliki perilaku dan ketertarikan yang tidak biasa, dan rendahnya kemampuan komunikasi dan bersosialisasi. Gejala autis biasanya dapat dilihat pada usia ketiga dan selama hidup, meskipun pada beberapa orang keadaan tersebut dapat membaik.


EditorAsep Candra

Komentar
Close Ads X