Menjawab Pertanyaan Anak Mengenai Seks

Kompas.com - 16/01/2014, 10:50 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Jika anak bertanya mengenai seks, bukan berarti berpikiran jorok. Namun, anak-anak menanyakan hal-hal yang ia amati, misalnya kenapa dada perempuan berbeda dengan laki-laki. Berikut ini beberapa panduan untuk menjawab pertanyaan anak.

1. Orangtua perlu menyiapkan diri
Paling baik tentunya orangtua sudah mempersiapkan diri dengan membaca buku atau menceritakan kepada anak dari buku atau kejadian sehari-hari yang dilihat anak. Mulailah dari cerita tentang hewan atau tumbuhan yang berkembang biak. Semua ini analoginya akan terkait pula dengan manusia.

Misalnya, "Ayam itu mengeluarkan telur dari pantatnya. Kalau kucing melahirkan anaknya lewat vagina ibunya." Ketika hal itu dipahami anak dengan baik, akan lebih memudahkan orangtua menjelaskan bagaimana bayi dilahirkan. Jika anak tidak diberikan dasar-dasar pemahaman tersebut, akan repot bagi orangtua untuk menjelaskannya.

2. Berikan jawaban saat itu juga
Orangtua sebaiknya menjawab pertanyaan anak saat itu juga. Namun, jika orangtua merasa belum menemukan jawaban yang tepat, dapat ditunda dan berjanji mencari informasi itu segera. Perlu diingat, anak kecil memiliki kecenderungan untuk selalu mengingat janji. Jangan jadikan janji itu sebagai alasan untuk menghindar.

3. Jangan berbohong
Dalam menjawab pertanyaan anak, berikanlah informasi yang sebenarnya dan jangan berbohong. Misalnya, menceritakan datangnya bayi karena dibawa burung bangau atau diberi oleh dokter. Siapa pun jika dibohongi akan merasa tidak dihargai, dianggap bodoh, rendah, dan layak diberi kabar yang tidak benar.

Lagi pula peluang untuk terbukanya kebohongan yang dilakukan orangtua cukup besar, sementara anak seiring usia bertambah akan tahu apa yang diceritakan orangtuanya adalah salah. Dampaknya, anak akan kehilangan kepercayaan kepada orangtuanya, akhirnya anak akan mencari orang lain yang dianggap bisa dipercaya.

Selain itu, gunakan istilah yang tepat, seperti penis dan vagina. Kalau mau memberi "nama" dengan bahasa yang dipakai anak-anak boleh saja, asalkan mempunyai asosiasi yang sama dengan kata penis, seperti kata "titit". Jangan mengatakan sesuatu dengan arti kata dan asosiasi yang berbeda, semisal penis diistilahkan dengan "burung".

4. Sesuaikan dengan kemampuan berpikir anak dan tidak berlebihan
Dalam memberikan penjelasan, gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Jika anak tidak bertanya bermacam-macam, cukuplah jawaban sebatas yang dia tanyakan. Hal ini berarti kemampuan menangkapnya sesuai yang dipahaminya saat itu.

5. Amati reaksi anak
Bagaimana reaksi anak ketika orangtua memberikan jawaban? Apakah ia kaget, bingung, atau malu-malu? Dengan demikian, Anda dapat menentukan sikap selanjutnya. Misalnya, ketika anak bereaksi kaget dengan jawaban yang diberikan orangtua, ada kemungkinan anak tidak siap atau mendapat informasi berbeda sebelumnya.

Tanyakan baik-baik alasan anak bereaksi demikian. Perbaiki jika anak mendapat jawaban yang keliru. Perhatikan juga reaksi anak ketika Anda memberikan jawaban dalam porsi tertentu. Jangan membuat anak semakin bingung atau penasaran.



Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X